Kamis, 26 Desember 2013
Sabtu, 21 Desember 2013
Minggu, 15 Desember 2013
Melayang, terbang si besi perkasa ini mulai terbang, hatiku berdegup semakin kencang, ini saatnya angin yang berhembus karena putaran baling-baling semakin tidak terasa, dan si besi perkasa semakin tinggi membumbung ke udara bersama dengan hatiku yang sedang membumbung hingga aku tak bisa di ungkapkan lagi kekaguman penerbanganku yang pertama ini. Bergegas aku menyiapkan kamera digital ku dan melihat-lihat ke sekitar untuk membuat saksi bisu untuk masa depanku kelak bahwa aku pernah benar-benar merasakan ada di udara. Terbang..
Aku berusaha bangkit dengan sekuat tenaga yang aku berharap mendapat bantuan dari orang sekitar sini, aku berjalan terhuyung-huyung seperti orang yang kehilangan kesadaran, dengan tertatih aku terus berjalan mengikuti jalan yang sedang aku lalui ini.
Beruntung, di ujung jalan aku menemukan jalan raya, dengan semangat tanpa memikirkan rasa sakit yang aku alami aku berjalan menuju tepian jalan raya itu, berharap ada orang yang akan melihatku iba dan mempersilahkan aku menumpang dan menuju kota terdekat.
Ahh.. itu suara mobil, aku sudah berdiri di tepian jalan sudah siap menunggu dan semoga ada orang yang berbaik hati dan mempersilahkan aku masuk mobil dan memberikan aku tumpangan. Mobil itu mendekat, aku bisa melihat jelas wajah sang pengemudi, sepertinya ia orang yang ramah dan semoga aku diizinkan ikut bersamanya.
Mobil itu semakin dekat, tapi bukannya iba sang pengemudi langsung tancap gas dan mengemudikan mobilnya dengan cepat saat mobil mendekatiku, aku melihat paras wajah pengemudi itu seperti ketakutan, entah apa yang membuatnya takut tapi aku yakin itu bukan aku. Agak kecewa memang, tapi aku tetap ingin menunggu.
SREK.. SREK..
Aku mendengar suara besi yang terseret di jalan raya dan itu tepat di belakangku. Aku merasa ada ancaman yang sedang mengintai, aku melihat ke belakang dan ternyata itu benar-benar ancaman. Aku melihat makhluk dengan jubah serba hitam dan memegang sabit besar, sabit itu sangat besar hingga saat ia berjalan ia harus menyeret-nyeret di tanah.
Aku sedikit terpaku seakan-akan aku tidak bisa bergerak, padahal aku berdiri dengan kaki yang bergetar sangat ketakutan, makhluk itu berpostur tinggi mungkin 2 meter dan ia tepat di hadapanku sekarang, ia menundukan sedikit badannya dan tangannya berusaha menggapai tubuhku yang kecil.
Tanpa pikir panjang aku berbalik badan dan berusaha lari dari jangkauannya, makhluk itu masih berdiri di tempatnya, dengan tertatih aku terus berlari menuju hutan kembali berusaha menjauh darinya. Sejenak makhluk itu melihatku lalu ia berjalan menuju arahku, aku merasakan aura kebencian yang tersirat dari sifatnya yang tenang. Walaupun aku melihat wajahnya yang datar tapi aku tetap merasa takut yang benar-benar mengancam.
Aku tetap berjalan dengan sekuat tenaga, berusaha menjauh darinya mengacuhkan rasa sakit yang aku alami. Ia tetap mengejarku tapi ia tetap tenang dan tidak memberikan ekspresi apapun itu, dengan begitu aku masih bisa berjalan lebih cepat dan mencari tempat persembunyian untuk menghindarinya.
Beberapa lama, aku tidak mendeteksi keberadaan si makhluk serba hitam itu, mungkin ia sudah menyerah dengan aku dan membiarkan keberadaanku. Sejenak aku menangis, aku meratapi pengalaman yang aku kira akan menjadi pengalaman yang paling tak bisa terlupakan dengan menaiki helikopter kini menjadi bencana.
Malam semakin larut, aku masih tersengguk dengan tangisku, aku masih tidak percaya kenapa bisa terjadi seperti ini. Di tengah renunganku aku melihat seorang laki-laki yang sudah tua membawa obor, dia melihatku dan sepertinya ia mengisaratkan kepadaku supaya aku mengikutinya. Aku berharap kakek ini akan berbaik hati dan mengizinkan aku menginap di rumahnya.
Tanpa melihat keadaanku yang susah untuk bergerak apalagi berjalan kakek itu mulai melanjutkan perjalanannya dan meninggalkanku, aku mengikutinya walau aku tertatih, kakek itu masih tetap berjalan dan aku masih tetap mengikutinya.
"Hei kek, bisakah kakek memperlambat jalan kakek, aku mengalami kesulitan untuk berjalan" kakek tetap berjalan tanpa menghiraukan permohonanku. Aku menghela nafas panjang, sepertinya sedikit kesal tapi tidak seperti orang-orang yang aku temui sebelumnya, mereka sangat aneh.
Pada akhirnya si kakek berhenti mungkin ia ingin menungguku, aku sangat gembira ternyata kakek ini sangat perhatian juga. Aku ingin sekali berterima kasih kepadanya karena sudah berhenti dan menungguku, aku berniat untuk menuturkan kata terima kasih saat aku sudah sudah dekat dengan.
"Kita sudah sampai" baru saja aku ingin berterima kasih tapi kakek itu sudah menyatakan perkataan dan membuat aku bingung.
"Tapi kita masih di hutan kek", aku masih bingung sebenarnya kakek ini ingin mengantarkan aku kemana, tiba-tiba kakek menggerakan tangannya dan menunjuka kepada sesuatu, ia menunjuk kepada kamera digital. Oh ya, itu kamera digital ku dengan segera aku mengambilnya.
Tapi saat aku ingin mengambilnya tiba-tiba aku terpaku, aku tak berdaya, kakiku terasa lemah dan sepertinya aku tidak punya kuasa lagi untuk berdiri, tiba-tiba aku terjatuh dengan bertopang lutut. Tiba-tiba air mataku menetes, aku melihat tubuh manusia yang terbujur kaku di tempat aku menemukan kamera digitalku, itu tubuhku..
"Sebenarnya aku siapa" aku masih tak kuasa dan tak percaya.
"Kau adalah dia", ujar kakek sambil menunjuk ke jasad yang terbujur kaku itu "Sadarlah!!"
Posted on Minggu, Desember 15, 2013 by Agung Permana
Kamis, 05 Desember 2013
Senin, 11 November 2013
Minggu, 10 November 2013
Kamis, 07 November 2013
Posted on Kamis, November 07, 2013 by Agung Permana
Kamis, 24 Oktober 2013
Posted on Kamis, Oktober 24, 2013 by Agung Permana
Kamis, 10 Oktober 2013
Lalu apa hubungannya sinyal sama orang, atau orang sama sinyal. Sebenarnya nggak terlalu berhubungan tapi kalau kita analogikan sinyal itu adalah ketertarikan seseorang atas sesuatu, maka sinyal dan orang akan berhubungan sekali.
Ya, itu dia yang aku maksud, layaknya ponsel yang mempunyai sinyal dan bisa berhubungan satu dengan yang lain, maka seseorang juga mempunyai sinyal dan bisa berhubungan dengan orang lain. Nah masalahnya, kenapa dalam kasus kehidupan seseorang, dia tidak bisa berhubungan dengan orang-orang tertentu, apa yang salah? apakah orang tersebut yang salah. Jangan salahkan orang lain jika ada orang yang tidak terlalu bisa bergabung dengan suatu kelompok, itu karena sinyalnya berbeda.
Lho kok sinyal..?
Ya jelas, sinyal seseorang yang membuat orang itu akan bermain dengan siapa, sinyal seseorang yang akan membuat seseorang itu jatuh cinta pada siapa, dan juga sinyal seseorang yang membuat seseorang itu membenci pada siapa.
Layaknya ponsel, ponsel akan mempunyai sinyal jika didalamnya diberi SIM Card, atau operator. Operator juga punya tarif-tarif tertentu, yang tentunya akan mengeluarkan biaya jika ingin berhubungan. Andaikan aku mempunyai ponsel dengan operator indosat lalu ingin berbicara lewat ponsel dengan teman dengan operator telkomsel, maka aku akan berfikir dua kali saat akan bicara, dan akan berbicara lewat ponsel jika keadaannya benar-benar penting.
Nah, dari sinilah kenapa orang mempunyai sinyal, sinyal disini diartikan sebagai ketertarikan seseorang pada sesuatu, jika ada seseorang tertarik dengan menulis, maka ia akan berteman dengan orang-orang yang suka menulis juga.
Maka dari itu orang pasti akan memilih siapa yang jadi temannya, itu karena mereka mempunyai ketertarikan yang sama.
Lalu bagaimana tanggapan kita akan sebuah statement ini "Jangan memilih-milih teman" apakah kita akan berfikir bahwa kita memilih-milih teman, jika kamu berfikir seperti itu, itu adalah pemikiran seseorang yang manusiawi, karena lazimnya seseorang akan memilih temannya secara tidak langsung.
Maka dari itu, teman sangatlah berharga, dikarenakan jika kita mempunyai teman dan kita tidak mempunyai ketertarikan yang berbeda akan lebih mengeluarkan pulsa untuk berbicara karena sinyal kita berbeda.
Tersenyumlah kepada setiap orang, karena kamu tidak tahu penderitaan yang ada di hatinya, mungkin saja kamu adalah obat bagi luka itu
Posted on Kamis, Oktober 10, 2013 by Agung Permana
Sabtu, 24 Agustus 2013
Kau telah hidup dengan kepala yang mendongak, memberontak terhadap tirani dan belenggu dan mencintai kebebasan. Kau telah hidup sebagai pencari ketenangan dari cakrawala baru untuk membangun negeri ini menjadi tempat yang tepat untuk masyarakat.
Kau tidak pernah menyibukkan dirimu dengan hal-hal yang menyibukkan orang-orang seusiamu. Walaupun pendidikan tradisional tidak mampu memenuhi aspirasi dan minatmu, kau selalu menjadi juara di kelas.
Aku tidak pernah mendapat cukup waktu berharga untuk bersamamu di kehidupan yang singkat ini. Terutama karena waktu yang aku miliki tidak memungkinkan bersama denganmu.
Dua hari sebelum kau dibunuh, aku melihatmu di mimpiku, mengenakan pakaian pengantin warna putih dan kau sangat cantik. Ketika kau dibaringkan di sisiku, aku bertanya "apakah ini malam pengantinmu?" Kau menjawab, "Ini siang hari, bukan malam".
Ketika berita kau dibunuh pada malam Rabu itu datang, aku mengerti apa maksudmu dalam mimpi itu dan aku tahu Allah telah menerima jiwamu sebagai seorang syahidah. Kau memperkuat keyakinanku bahwa kita berada pada kebenaran dan musuh kita di sisi yang salah.
Sangat menyakitkanku tidak bisa hadir mengucapkan perpisahan terakhir dan melihatmu untuk yang terakhir kalinya; tidak mencium keningmu; dan tidak mengimami shalat jenazahmu.
Aku bersumpah demi Allah, sayangku, aku tidak takut kehilangan nyawa atau di penjara dengan tidak adil, tapi aku ingin membawa pesan yang engkau rela mati karenanya, yaitu untuk menuntaskan revolusi, untuk menang, dan meraih tujuan.
Jiwamu dicabut dengan kepalamu mendongak tinggi melawan tirani. Peluru pengkhianat itu mengenai dadamu. Dengan niat yang tulus dan jiwa yang suci. Aku yakin kau jujur pada Allah dan Dia memilihmu di antara kami dan memuliakanmu dengan pengorbanan.
Akhirnya, putriku tercinta dan seorang guru yang terhormat:
Ini adalah surat dari ayah yang putrinya ditembak oleh penembak jitu militer mesir.
Posted on Sabtu, Agustus 24, 2013 by Agung Permana
Selasa, 30 Juli 2013
Posted on Selasa, Juli 30, 2013 by Agung Permana
Jumat, 26 Juli 2013
Dia mencintai gadis yang bekerja di toko DVD, tapi ia tidak pernah mengatakan kepadanya tentang perasaannya itu..!
Setiap hari ia pergi ke toko DVD & membeli sebuah DVD hanya untuk melihat dia dan berbicara kepada gadis tersebut..
Setelah sebulan,kemudian, anak laki-laki itupun meninggal.
Suatu ketika gadis itu pergi ke rumah laki-laki itu & bertanya tentang dia, ibunya mengatakan bahwa ia telah meninggal dan mengantar gadis itu ke kamar anaknya.
Dia melihat semua DVD yang telah ia beli belum pernah dibuka sama sekali.
Gadis itupun menangis...
Dan akhirnya ia pun meninggal.
Alasan mengapa dia menangis adalah bahwa ia telah menyimpan surat cintanya sendiri di dalam kotak DVD tersebut.
karena ia juga mencintainya.
Moral dari cerita: Jika kau mencintai seseorang, maka katakan kepadanya secara langsung! Jangan menunggu takdir untuk memainkan peran, hingga kau akan kehilangan orang itu...
Posted on Jumat, Juli 26, 2013 by Agung Permana
Minggu, 21 Juli 2013
Aku cemburu kepada mereka yang setiap saat bisa bertemu denganmu tanpa terhalang jarak dan waktu..
Aku cemburu kepada mereka yang selalu bisa menikmati senyum indah dan tawa manismu..
Aku cemburu kepada mereka yang selalu bisa berkomunikasi langsung denganmu..
Katakan pada mereka aku cemburu..
Posted on Minggu, Juli 21, 2013 by Agung Permana
Jumat, 28 Juni 2013
Apalagi bekas luka hati. Kita lebih tidak tahu lagi. Seseorang di hadapan kita, selalu tersenyum, terlihat bahagia, boleh jadi penuh bekas luka di hati. Bekas-bekas luka yang memberikan pemahaman baik, dan kini membuatnya bahagia.
Ketika kita tidak bisa melihatnya, maka bukan berarti bekas luka itu tidak ada.
*Tere Lije
Posted on Jumat, Juni 28, 2013 by Agung Permana
Kamis, 20 Juni 2013
Ketika kamu merasa kesepian, sadarilah bahwa ada seseorang yang berharap bangun setiap hari hanya untuk punya kesempatan melihatmu
Ketika kamu merasa sendiri dan tak ada yg peduli, ingatlah bahwa ada seseorang di luar sana yang begitu ingin memiliki hidup yang kamu jalani.
Ketika kamu merasa tak ada yang peduli denganmu. Bercerminlah, orang yang kamu lihat di sana, membutuhkanmu
Posted on Kamis, Juni 20, 2013 by Agung Permana
Selasa, 18 Juni 2013
Sabtu, 15 Juni 2013
Posted on Sabtu, Juni 15, 2013 by Agung Permana
Kamis, 30 Mei 2013
Jumat, 10 Mei 2013
Minggu, 05 Mei 2013
Andai aku bisa luapkan itu semua, kekesalanku hari ini sudah tak bisa ku tahan, entah kenapa minggu ini memang minggu terberat dari hidupku. Hidupku yang sekarang bukanlah hidupku sebulan yang lalu, atau setahun yang lalu saat aku berada di Jogja.
Ku pastikan ketenanganku hari ini adalah harga mati, tidak boleh di ubah, tidak boleh di rusak bahkan tidak boleh ada yang mengganggu. Tapi buktinya,, tetap saja selalu ada yang mengganggu ketenanganku. Jika aku bisa pergi ke ujung dunia, dimana tidak ada orang di sekitarku, aku akan kesana dengan biaya sebesar apapun. Tapi itu hanyalah omong-kosong belaka, khayalan anak kecil yang ingusan.
Mungkin aku harus menjadi anak kecil yang ingusan itu supaya khayalku bisa tercapai, ya.. kau benar,, anak kecil tidak pernah memikirkan masalah. Ingin rasanya aku menjadi seperti dulu, seperti aku yang masih kecil dan tidak memikirkan masalah. Tak merasa terganggu dengan politik orang dewasa, dan masalah dunia yang fana. Aku ingin seperti itu.
Ya,, orang itu, rasanya aku ingin sekali berkata pada orang itu,
"mau sampai kapan kau mengusik kehidupanku..??"
"Mau sampai kapan kau merebut ketenanganku..??"
Posted on Minggu, Mei 05, 2013 by Agung Permana
Kamis, 25 April 2013
Ayah masuk kamar, menghampiri dengan tanya “Apa yang kau bilang?”
“Aku ingin keluar, Yah,,”, jawabku.
Wajahnya sedih, pucat pasi. Ia pergi tanpa bertanya apa yang terjadi.
Apa yang terjadi? Mengapa Ayah begitu sedih mendengar itu? Aku tak mengerti. Aku benar-benar tak mengerti. Lagi pula ke luar ke mana? Inilah duniaku. Inilah tempat terindahku. Semuanya ada. Segala hal yang membuat aku tak harus mencari dunia lain.
Aku memang pernah mendengar, di luar sana ada dunia yang lebih menyenangkan tapi sekaligus lebih mengerikan. Di sana akan lebih banyak oksigen sekaligus bencana yang lebih besar. Ah lalu apa maksud mimpiku? Aku tidak mungkin pergi mencari jalan keluar yang belum tentu ada jalan keluarnya! Ah, ini hanya mimpi.
***
Aku tak bisa tinggal diam setelah kejadian itu. Mengapa aku harus digelisahkan oleh mimpi yang sangat tak penting?
Aku mencari ke berbagai informasi. Ku datangi perpustakaan, aku datangi orang-orang pintar. Rupanya mimpi ini tidak hanya sekedar mimpi. Setiap orang akan mendapatkan mimpi yang sama. Setiap orang akan mendapatkan kesempatan yang sama. Jalan ini memang ada. Namun, hanya sebagian saja yang dapat menemukannya dan berhasil menghilang tanpa diketahui, sebagai pertanda keberhasilannya.
Apakah aku harus mencari jalan itu? Jalan keluar menuju kebebasan? Meninggalkan tempat ini beserta isinya? Orang-orang tercinta,kehangatan, kenyamanan dan rasa aman? Apakah benar di sana lebih menyenangkan? Tapi di sana pun bisa lebih menyeramkan, itu yang aku khawatirkan.
Tapi aku tak harus takut. Wajar saja tempat itu lebih menyeramkan karena bisa sangat lebih menyenangkan. Akan ku anggap itu sebagai tantangan. Tantangan untuk bertahan hidup.
Aku harus temukan jalan itu. Aku harus bisa melewatinya. Bagaimana pun caranya.
Keesokan harinya aku semakin dikuatkan. Mimpi itu kembali datang. Aku keluar dari lubang hitam mendapati cahaya terang disambut kicauan burung yang saling bersahutan. Indahnya. Aku harus benar-benar mencari jalan itu. Aku harus persiapkan segala hal sebagai bekal.
Di perjalanan mencari keperluan, aku tak tahan menolak ajakan untuk melangkahkan kaki menuju hutan. Aku masuk dan mengikuti jalan setapak. Semakin jauh ku tinggalkan kampung halaman. Aku berjalan terus dan terus. Tiba-tiba aku melihat cahaya. Aku harus mengetahuinya lebih dekat.
Cahaya yang seolah hanya berjarak sepuluh meter membuatku terus tertipu. Setiap langkah cahaya itu seolah semakin dekat, membesar. Ketika aku kejar cahaya itu mengecil seperti semula. Ku langkahkan kembali, cahaya semakin membesar, setelah ku kejar, kecil kembali. Begitu terus berulang.
Aku sudah terlau jauh masuk ke hutan, meninggalkan tempat yang ramai dan aman. Aku tak bisa kembali. Jalan setapak yang ku ikuti sudah tidak membuntuti. Karena aku hanya mengikuti ke mana cahaya itu pergi.
Tiba di suatu tempat, aku mendapati cahaya terang yang berasal dari atas. Atas? Di mana aku sekarang? Kapan aku memasuki gua itu? Apa mungkin selama ini aku tinggal di tempat yang begitu kecil? Tinggal di tempat yang ku anggap dunia yang nyatanya begitu sempit? Konyolnya aku selama ini. Menganggap bahwa yang kini di belakangku adalah segalanya. Rupanya aku hanya tinggal ditempat yang begitu tak seberapa. Aku muak.
Rupanya rasa muak semakin menguatkanku. Di sana aku terlalu dimanjakan. Semakin hari aku semakin diberi sedikit kesempatan untuk belajar. Belajar bertahan hidup. Semakin hari di sana begitu semakin menyenangkan. Aku benar-benar harus keluar. Ayah pun pernah mendapatkan mimpi yang sama, namun ia lebih mencintai kenyamanan yang membosankan.
Konon, orang-orang yang mendapatkan mimpi itu akan dibimbing ke suatu tempat tanpa disadari oleh si pemimpi. Sehingga tak bisa persiapkan apapun selain kepercayaan dan keteguhan hati. Ya, di sinilah aku sekarang, di tempat itu. Tanpa persiapan. Menuju jalan ke luar.
Aku melihat ke atas, aku melihat warna biru yang tak biasa ku lihat. Itu langit yang sangat berbeda. Cahaya dan biru itu pun lebih terlihat nyata. Aku harus tau apa yang ada di luar sana. Aku benar-benar harus keluar. Menaikinya dan keluar menuju dunia yang lebih luas, meninggalkan kenyamanan yang sebenarnya hanyalah lubang hitam.
Sial! Selama ini aku benar-benar berada di dalam lubang hitam, lubang kegelapan dan inilah jalan keluarnya. Dinding kokoh berbentuk lingkaran penuh dengan lumut tebal, gagah mengelilingiku.
Aku harus segera mencapai puncak tapi aku tak bisa naik begitu saja. Tembok ini begitu tinggi. Licin dan berlendir. Begitu menyeramkan. Aku harus mencari tangga. Pasti ada tangga menuju ke atas. Tapi ah, tak ada tangga yang dapat mempermudah. Ini jalan buntu!
Aku jadi ingat akan cerita seseorang dengan mimpi dan keyakinan yang sama berusaha menaiki dinding ini tapi gagal. Ia harus mati - dengan luka disekujur tubuh - dipangkuan pamannya setelah menceritakan apa yang terjadi. Ia menaiki tembok tanpa tangga dan penyangga kemudian terjatuh setelah mencapai dua per tiganya kemudian menyerah.
Setiap orang yang memutuskan mencari jalan terang namun kemudian menyerah, akan alami hal serupa, mati. Mati tanpa penghormatan karena dianggap hanya manusia bodohlah yang ingin mengawali hidup baru yang tak tentu dengan bersusah payah menaiki tembok tanpa tangga dan penyangga.
Ya, aku melihat jejaknya yang berbekas, membuat sedikit lengkungan pada dinding tembok. Semoga aku bisa di mudahkan olehnya. Aku tak ingin mati tanpa penghormatan. Lebih baik aku hilang kemudian di kenang.
Kini, jalan keluar ada depan mata. Aku harus berhasil walau tanpa apa-apa. Mungkin ini yang dikhawatirkan Ayah tapi aku akan langkahkan kaki. Aku siap terjatuh, terluka dan terus mencoba.
****
aku suka cerpen ini,, ceritanya bikin orang berfikir, karena pesan moralnya bener-bener seperti dalam genangan kabut.
https://www.facebook.com/groups/KomunitasBisaMenulis/doc/516544735074089/
Posted on Kamis, April 25, 2013 by Agung Permana
Kamis, 11 April 2013
- Sholat = sisa waktu bekerja dan beraktivitas
- Sedekah = sisa uang jajan/kekayaan
- Puasa = sisa hari
- Mengaji = sisa facebook-an, twitter-an, baca novel dan baca komik
- Dzikir = sisa mengobrol dan membicaarakan dunia
Posted on Kamis, April 11, 2013 by Agung Permana
Selasa, 19 Maret 2013
"Berapa banyak pun satuan jarak sebagai pemisah, cinta akan menemukan jalan untuk pulang".
http://momenkita.tumblr.com/
Posted on Selasa, Maret 19, 2013 by Agung Permana
Senin, 11 Maret 2013
Posted on Senin, Maret 11, 2013 by Agung Permana
Minggu, 10 Maret 2013
Selasa, 05 Maret 2013
Posted on Selasa, Maret 05, 2013 by Agung Permana
Minggu, 03 Maret 2013
Posted on Minggu, Maret 03, 2013 by Agung Permana
Sabtu, 02 Maret 2013
Sabtu, 23 Februari 2013
Dan ia melihat ke belakang di hatiku..
Semua terasa tak cukup normal..
Karena aku merasa lebih kuat dan lebih lemah di saat yang sama..
Aku gembira, dan di saat yang sama aku sedih..
Dan aku tak tahu apa yang aku rasakan..
Kecuali aku tahu siapa diriku..
Seolah-olah aku bukan diriku..
Dan aku belum siap untuk itu..
Posted on Sabtu, Februari 23, 2013 by Agung Permana
Selasa, 19 Februari 2013
Jurang curam berkeliaran
Posted on Selasa, Februari 19, 2013 by Agung Permana
Senin, 18 Februari 2013
Jakarta, 15 Febuari 2013
Posted on Senin, Februari 18, 2013 by Agung Permana
Sabtu, 16 Februari 2013
Kamis, 14 Februari 2013
Melihat indah terbitnya sang cahaya..
Garis cakrawala di tangan kiri fajar..
Dan berakhir dengan senja yang berkharisma..
Ku lihat semuanya..
Indah pikat cahaya..
Seperti melihat ukiran senyum pencipta..
Posted on Kamis, Februari 14, 2013 by Agung Permana
Minggu, 10 Februari 2013
Posted on Minggu, Februari 10, 2013 by Agung Permana
Posted on Minggu, Februari 10, 2013 by Agung Permana







