Ini adalah salah satu dari pengalamanku, mungkin aku sebut
ini adalah pengalaman indah, maksudku tidak begitu indah, ya,, agak buruk
mungkin, bisa aku artikan setengah baik setengah buruk, atau.. kau bisa artikan
sendiri, penglaman apa yang aku rasakan ini, baik atau buruk.
****
Berawal dari motor baruku, maksudnya motor yang lama yang
baru aku pakai, ya,, gampangnya aku yang kuliah kuliah di Jogja ini baru saja
dikirimi motor. Hm,, repot amat Cuma menjelaskan kalau aku baru dikirimi motor
dari orang tuaku.
Sebelumnya aku memakai sepeda yang biasanya ku sebut dengan
sepeda yang ikut perang, haha.. itu karena sepeda itu adalah sepeda yang paling
tua yang pernah aku pakai, ya.. itu adalah sepeda warisan dari adik kakekku,
atau biasa aku sebut mbah cilik. Dengar-dengar sepedaku yang sering aku pakai
itu ada pada tahun 70-an. Lalu apa hubungannya dengan sepeda yang ikut perang..?!?!
orang bilang itu sepeda yang ada pada tahun 70-an tapi aku sebut sepeda yang
ikut perang, haha. Padahalkan di tahun 70-an Indonesia udah bebas dari perang.
Hm,, ko jadi ngomongin sepeda ya, padahal cerpen ini
prolognya “berawal dari motor baruku”?!?! Ya udah langsung aja lah ke
ceritanya….
****
Hari itu hari sabtu, ya.. hari yang sangat membosankan.
Harus duduk di ruang kelas padahal aku sendiri tidak ada jadwal kuliah, hari
sabtu dan hari minggu libur bro.. tapi kenapa aku harus repot-repot duduk
seperti layaknya orang kuliah.
Ya sudahlah, itu bukan hal yang penting, dipikir-pikir ada
baiknya juga. Daripada diem di kostan nggak ada kerjaan, mau main game baru
baru ingat semua gameku sudah aku hapus. Menyedihkan.. padahal cuma karena
masalah kecil aku sudah ngambeknya sampe ngapus semua game. Tapi tetap lebih
baik, daripada aku hapus semua e-book fisika. hahaha…
Tapi tiba-tiba ponselku berbunyi, ternyata aku mendapat sms
pemberitahuan dari agen jasa pengiriman barang. Tanpa pikir panjang aku
langsung mengambil motorku yang ada di agen jasa pengiriman, akhirnya.. aku
punya motor.
****
Singkat cerita sekarang hari minggu, seperti hari minggu
yang biasa aku lakukan setiap harinya, tanpa kerjaan sama sekali. Mau olah raga
males, mau nonton TV.. kayanya pikir-pikir dulu,, acara TV sekarang nggak
berbobot, kalau tidak lagu, pasti sinetron.
Di tengah acara TV nggak jelas, tiba-tiba temanku datang,
dia adalah agus, teman dari satu daerah, Cilegon.
“Wui gung.. liburan di kostan aja, keluar kemana ke..!!” si
agus ngeloyor masuk ke dalam, memang agak kurang sopan, tapi ya begitulah ia.
“Tumben main, pasti ada apa-apanya ni?” aku langsung
menginterogasinya.
“Haha.. tahu aja lu gung” logat betawinya si agus muncul
“Begini gung, pacar gue kan ulang tahun ni besok, lu bikinin gue lukisan foto
pacar gue dong.”
Aku nggak yakin dia cuma minta bikinin gambar, pasti ada yang
lain, kedatangan temenku ini pasti aja ada maunya, kalau disuruh main ke kostan
pasti ogah-ogahan. Tapi kalau ada maunya nggak usah di undang, pasti udah
datang sendiri.
Karena aku sedang nggak mood ngegambar, akhirnya hanya ku
buatkan kartu ucapan selamat ulang tahun aja. Lagi pula siapanya aku, bukan
pacarku atau siapa itu.
Tapi setelah itu aku ikut ke kostannya agus, karena ia baru
saja pndah kostan, sekalian juga main ke kostan agus, daripada diem di kostan
sendiri cuma nonton TV yang nggak karuan acara apa yang aku tonton. Sekalian nyobain
jalan-jalan naik motor yang baru dikirim juga. Haha..
****
sekarang jam 5 petang, saatnya pamit ke tuan rumah, langsung saja tanpa pikir panjang aku langsung pergi dari kostannya si agus. Dari sinilah masalahnya, ternyata setahun lebih aku di Jogja, route hidupku hanyalah kostan dan kampus.
Padahal tadi aku yakin jalan pulang ke kostanku, sedari tadi aku mengikuti di belakang motor si agus, masa sekarang sudah lupa lagi. Aku mencoba mengingat-ingat jalan yang tadi aku lalui, mungkin ke kanan atau ke kiri mungkin saja lurus. Argh,, aku tersesat.
Sekarang sudah jam 6 petang, aku nggak tahu harus kemana lagi, sejenak terbesit dalam pikiranku untuk balik lagi ke kostannya agus, dan menyuruh untuk memberitahuku jalan, aku ingat habis ini belok ke kanan.
Tapi tiba-tiba da kejadian yang memompa denyut jantungku, membelalak, dan hampir saja aku tersungkur bersama motorku di tengah lampu lalulintas. Spontan aku teriak ke arah belakang "woi,, kalau belok hati-hati." terlihat sebuah mobil hitam mewah bermerek Grand Livina, aku langsung menepi dan tidak jadi belok kanan, sepertinya spakbor belakang ancur gara-gara si pengendara Grand Livina yang sembrono, Hah.. sial tu orang.
Saat aku menepi untuk mengecek spakbor belakang, tiba-tiba ada mobil berhenti di depanku. Itu si pengendara Grand Livina, mungkin ingin meminta maaf atau apa. Tapi sejenak aku berfikir, pintu depan sebelah kiri terbuka, lalu keluar orang besar yang besarnya lebih besar daripadaku. Sial.. ada yang nggak beres ni.
Aku langsung tancap gas, si orang besar meneriakiku entah apa yang ia ucapkan, yang ada di pikiranku sekarang hanyalah ingin pulang. Sudah satu jam aku berkeliaran di jalan tanpa tahu jalan pulang.
Ternyata aku tidak sendiri, entah apa yang aku perbuat. Sepertinya hari ini hari yang sial, aku ditemani si pengendara Grand Livina. Ia mengekoriku sepertinya ia geram, aku dibuntuti hingga berada di jalan kecil untuk pengendara motor. Gila ni orang, niat sekali ingin mengejar. Tapi ada keuntungan yang dapat aku ambil, mobil itu tidak akan muat jika aku menyalip banyak motor, dan untungnya di depanku banyak sekali motor yang tak jelas di jalan kecil untuk pengendara motor itu sehingga membentuk sebuah labirin kecil berbentuk zigzag, hingga sebelum aku memasuki labirin motor itu si pengendara Grand Livina masih saja mengejarku.
Akhirnya aku menghilang dari si pengendara Grand Livina. Dan tebak apa yang aku temukan di ujung jalan, itu adalah perempatan kentungan dekat kostanku, dan untungnya lagi lampu lalulintas sedang menyala hijau. Aku bisa makin jauh dari si Pengendara sialan itu.
****
Akhirnya sampai juga di kostan, setelah sembahyang petang aku langsung berebah, rasanya kejadian hari ini membuatku lemas dan ingin sekali melupakannya, memang hari yang sial.
Tapi aku berfikir mencoba mengambil sisi positif dari kejadian hari ini, tadi aku kalap kehilangan jalan pulang, dan hampir saja aku menghilang di jalanan dan entah kemana nanti aku, trus tiba-tiba aku tertabrak dari belakang, dan bertemu si pengendara Grand Livina yan sialan, dan akhirnya menemukan jalan pulang.
Sejenak aku berfikir, jika aku tidak tertabrak oleng prngrndara yang aku sebut pengendara sialan itu mungkin aku tidak bisa pulang sekarang. Hm.. benar juga ya, mungkin inilah suatu pelajaran baru untukku, bahwa tidak semua jalan yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa langsung semulus jalan yang akan diberi, tapi sejelek apapun itu, tetap di ujung jalan pasti akan ada jalan yang lurus sebagai imbalan atas istiqomahnya kita berjalan di jalannya walaupun itu tidak semulus jalan yang lain.
"Tidak semua kenikmatan dibungkus dengan kenikmatan pula"