****
Sabtu, 23 Oktober 2010
pagi ini aku sangat senang, aku bisa pergi berjalan-jalan setelah penat selama setengah semester aku bergelut dengan buku. aku dan teman-teman kampusku bisa pergi menghilangkan penat paska Ujian Tengah Semester ini. haha,, ini akan menjadi hari yang sangat menyenangkan. aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
kali ini aku dan teman-teman akan hiking ke merapi, disamping dekat. kami tidak akan membutuhkan ongkos banyak untuk pergi ke tempat hiking. disamping kami kuliah di UGM, kostan kami pun tidak ada yang jauh dari jalan kaliurang. tinggal lurus ke arah utara,, hm.. sampe deh.
sabtu ini akan menjadi sabtu yang panjang, karena hari ini adalah hari dimana kami akan hiking. aku sudah tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya nanti bila aku tidur bukan dalam skat-skat tembok, tapi dalam pendirian kain dari bahan parasut itu. betul sekali,, karena kami akan bermalam di tenda.
aku adalah bagian acara dengan berbagai acara yang sudah aku persiapkan untuk menghibur teman-temanku yang sama-sama merasakan penatnya UTS. niatnya aku ingin menjelajahi alam entah kemana. tapi ada dari satu temanku ingin mendaki sampai ke puncak gunung merapi. dia memang pendaki sejati, tapi apa daya. voting telah mengeksekusi keputusan teman-teman.
****
Minggu, 24 Oktober 2010
setelah eksekusi keputusan kami semua, kami siap-siap untuk pergi hiking ke puncak gunung merapi. hari ini tampak cerah, tapi aku tetap akan berhati-hati dan bersiap jika nanti akan turun hujan.
setelah berjam-jam kami mendaki, ternyata kami tidak menemukan jalan yang kami lalui tadi, aku sudah punya firasat kalau temanku ini tidak tahu jalan pulang alias nyasar bin tersesat..
bagaimana jika kita tidak balik esok hari, padahal kan besok udah mulai kuliah lagi. aku tidak mau ketinggalan satu mata kuliah pun. karena itu sangat berharga.
tak lama mentari pun mulai bersembunyi di balik katulistiwa, entah bagaimana aku kembali, kami kehilangan arah, mau tidak mau kami harus berkemah di tengah hutan gunung merapi. huft,, ini gara-gara voting yang nggak seimbang. padahal kalau saja semua mengikuti apa kataku tidak akan terjadi yang seperti ini.
****
Senin, 25 Oktober 2010
"dingin yang menusuk sampai ke nadi, dengan hiasan gelap, tanpa nyanian alam, hari yang menjadi seperti apa yang aku rasakan, menjadi seperti fajar kadzib yang mengecoh."
aku merasakan guncangan, sepertinya ada gempa bumi. aku membengunkan satu dari temanku, tetapi tak ada yang bangun. mungkin mereka cape. atau mereka kesal hingga tak mau dibangunkan. aku merasakan guncangan lebih keras, satu di antara temanku bangun. raut wajahnya cemas, tak jauh beda seperti raut wajahku.
fajar mulai menghilang, tapi aku tidak merasakan indahnya sunrise seperti kemarin dengan secangkir kopi hangat, tetapi dengan sebotol kecemasan. aku mencoba membangunkan teman-teman yang lain tapi hasilnya sama.
di kejauhan aku mendengar suara orang pedalaman teriak, suara itu makin menjadi, seperti orang yang ketakutan karena dikejar segerombolan binatang buas mengamuk.
"ERUPSI..!! ERUPSI..!!"
aku mendengar dengan lebih jelas, itu suara teriakan orang-orang pedalaman, aku sedikit bingung dengan apa yang terjadi, tapi sejenak aku sadar.. itu adalah peringatan gunung merapi..!!
aku membangunkan teman-temanku yang lain, dengan nafas agak tersenggal karena panik, akhirnya semua bangun, panik. dan memikirkan diri sendiri.
"Gelap, senyap, beku, hanya ada gelap di sekitarku, apakah ini adalah akhir dari semuanya. apakah aku di surga atau di neraka..??" tak ada satupun yang aku ingat kecuali orang yang berlarian menghampiri diriku yang tak sadar ada segerombol manusia panik.
****
aku tak bisa menahan air matuku, tidak untuk setiap kali aku mengingat kejadian itu, aku hanya bisa meratapi hidup deengan duduk di atas kursi dengan tongkat di samping kursi.
dulu itu adalah permainan kesukaanku sewaktu kecil, tapi sekarang aku hanya bisa melihatnya bergulir di tanah basah terhujani. dengan kaki yang seperti ini, aku tak bisa. kini aku hanya bisa melihat anak-anak kecil yang bermain di sana, sejenak aku merasa tenak melihat keceriaan yang terpancar dari wajahnya. padahal hari ini adalah hari yang tidak baik untuk bermain bola, tapi mengapa mereka senang.
apakah arti kesenangan yang terlukis di wajah polos mereka?? apakah mereka merasa kekurangan lalu berkecil hati?? mungkin tidak..
sejenak aku berfikir betapa bodohnya aku yang selalu sedih meratapi hidup, andai aku berfikir seperti polosnya anak-anak yang bermain di kala hujan seharusnya aku tersenyum sekarang, sebagaimana anak-anak kecil itu tersenyum di kala ada kekurangan saat bermain bola.
"Kecelakaan hanya memberikan penderitaan bagi orang yang meratapi hidupnya, padahal itu adalah sesuatu yang indah jika kita melihat berapa banyak orang yang mengalami kecelakaan tapi tidak bisa meratapi hidupnya."

0 komentar:
Posting Komentar