Hm,, agak bingung mau mulai cerpennya dari mana?!?! tapi kayaknya biar nggak bosan aku mau ganti sudut pandang ceritanya, habis dari kemarin sudut pandangnya orang pertama mulu, "aku" lagi "aku" lagi.. mulainya kapan ya..?!?! Hm.. sekarang aja deh, abis paragraf ini. haha..

*****

Pada zaman dahulu kala..!! haha.. basi, ganti lah. Suatu hari pada zaman dulu.. kok kayanya sama aja ya..?!?! Argh,, langsung aja ceritanya. Gitu aja kok repot..!! hihi..
Seorang sultan sedang berjalan-jalan di sebuah desa dekat keratonnya, ia ingin sekali jalan-jalan melihat keadaan rakyatnya yang ia pimpin. Hal ini rutin dilakukan sultan tiap dua minggu sekali, lagi pula dengan cara ini sultan bisa melihat langsung keadaan rakyatnya dan bisa menyelesaikan solusi dengan cepat.
Sultan sangat gembira sekali, ia di sambut dengan sopan dengan rakyat-rakyatnya, itu terlihat dari rakyat-rakyatnya yang ia temui di setiap jalan, saat bertemu di jalan ada rakyat yang sedang melakukan aktifitasnya, saat melihat sultan lewat, serentak mereka berhenti dari aktifitasnya lalu tersenyum sambil  memuji sultan yang sangat bijak itu.
Suatu ketika, sultan melihat seorang kakek yang sangat tua, sedang menanam pohon kelapa, sejenak sultan berfikir kenapa di hari tuanya si kakek menanam pohon kelapa, apakah tidak ada anaknya atau cucunya yang membantunya, jika dilihat dari fisik sang kakek sepertinya ia benar-benar sudah tua dan tidak bisa melakukannya sendiri.
Sultan pun mendekati kakek itu, "Wahai kakek, mengapa engkau menanam pohon kelapa di waktu tuamu padahal engkau tahu pohon kelapa lama sekali tumbuh, dan engkau tidak akan mendapatkan hasil dari apa yang kau tanam..??" tanya sang sultan.
"Wahai sultanku, sebenarnya apa yang kita makan ini adalah hasil tanam dari orang sebelum kita." Jawab sang kakek sambil mengeluarkan apel dari bajunya lalu melanjutkan berbicara "Maka kita menanam sekarang untuk orang sesudah kita"
Sang sultan teekejut mendengar pernyataan sang kakek, ia selalu makan dan tidak mengetahui darimana asal semua makanan yang ia makan. Lalu sang sultan berfikir untuk memberi sang kakek imbalan atas apa yang ia lakukan. Langsung saja sang sultan memerintahkan patih yang mengawalnya untuk memberikan satu keping emas.
"Patih..!! berikan sang kakek yang bijak ini sekeping emas" perintah sultan.

"Baik sultan" diberikanlah keping emas itu kepada sang kakek.
Bukannya senang sang kakek bingung lalu bertanya kepada sultan. "Wahai sultan kenapa engkau memberiku uang sebesar hasil panen padahal pohon ini belum saatnya panen, bahkan belum tumbuh."
"Benar juga" sang sultan mengelus-elus dagunya memikirkan perkataan sang kakek. "Patih..!! berikan sang kakek ini sekeping emas lagi."
"Baik sultan." diberikanlah sekeping emas lagi kepada sang kakek.
Sang kakek bertambah bingung. "Wahai sultan, kenapa engkau memberikanku uang panen dua kali, padahal engkau tahu bahwa pohon kelapa ini hanya panen sekali dalam setahun."
"Benar juga." sang sultan membenarkan kata-kata sang kakek. "patih..!! berikan sang kakek ini satu keping emas lagi." perintah sultan.
"Baik sultan." patih pun memberikan satu keping emas lagi.
Sejenak patih bingung lalu berbisik kepada sultan. "Wahai sultan, sebaiknya kita pergi dari tempat ini sebelum emas kita habis"
"Benar juga, saya pun ikut bingung"
"Sultan terlalu baik." timpal sang patih.
Akhirnya sultan pun beranjak dari tempat itu dalam keadaan bingung, karena patih ikut dengan raja, ia pun ikut bingung, dan sang kakek yang tambah bingung yang sebenarnya ingin mengutarakan beberapa pertanyaan lagi, dan penulispun bingung ingin menulis apa lagi. Hm....

****


Ya itulah, cerita pendek pada kesempatan kali ini, semoga teman-teman tidak ikut bingung membacanya. haha..

Pada akhirnya ada yang harus diambil dari cerita ini, bahwa:
apa yang kita makan ini adalah hasil tanam dari orang sebelum kita, Maka sebaiknya kita menanam sekarang untuk orang sesudah kita.
Selesai ah, daripada nambah bingung.......................