Bapak Kemana Mak?Huhu.. suara tangisan seorang anak perempuan yang duduk melas di atas kubangan air, kemungkinan ia terjatuh, atau mungkin ia dijatuhkan oleh seseorang. Ya, sepertinya ia dijatuhkan seseorang, lihat saja ada seseorang anak laki-laki yang berdiri tegap dan angkuh sambil melipat tangannya, roman mukanya terlihat gembira, seakan-akan ia puas dengan apa yang ia lakukan. "Rasakan itu" cetus anak laki-laki di depannya.
Huhu.. anak perempuan itu masih menangis, menangis makin kencang, sekencang-kencangnya hingga menarik perhatian teman-teman di sekelilingnya lalu mereka menghampiri perempuan yang menangis itu, "Alif nakal! Alif nakal!" sorakan anak-anak yang menghampiri anak anak perempuan.
Ya, dia adalah Alif, teman-temannya menyebut ia si Alif nakal, ia tidak terganggu dengan julukan yang diberikan oleh teman-temannya, karena dalam benaknya "aku adalah aku dan apa yang aku lakukan, bukan apa yang mereka pikirkan". Alif terlahir di keluarga yang serba kekurangan, emak Alif bekerja sebagai buruh tani dan juga jongos di rumah-rumah tetangga, sedangkan bapak Alif, sampai sekarang ia tidak tahu kabarnya, emak Alif hanya memberitahu bahwa sang bapak sedang pergi bekerja, kelak ia akan pulang membawa uang dan sepeda seperti apa yang Alif pinta.
Akhir-akhir ini Alif sering membuat masalah dengan temannya, dan seringnya ia membuat teman sebayanya menangis karena ulahnya, padahal ia hanya ingin bermain dengan yang lainnya, sama seperti anak-anak yang lain, tapi mereka menjauhi Alif. Begitulah Alif, dan orang-orang memanggilnya si Alif nakal.
Alif masih berdiri angkuh di depan Dini yang menagis karena ulahnya, ternyata Dini dijatuhkan Alif hingga jatuh ke kubangan. Alif hanya ingin bermain dengan teman-teman yang lainnya, tetapi Dini menolak Alif untuk ikut bermain, ia beranggapan bahwa jika Alif ikut permainannya tidak akan asik lagi. Alif kesal dan mendorong Dini hingga jatuh ke kubangan air, ya.. begitulah kira-kita ceritanya kenapa Dini bisa menangis.
"Alif...!!"
Suara yang sudah tidak asing di telinga Alif, suara yang terdengar marah nan nyaring tepat di belakang telinganya, ia sadar siapa yang ada di belakangnya, Alif menoleh ke belakang dan.. yup, tepat sekali itu emak Alif yang terlihat sedang marah kepadanya, dijewerlah telinga Alif oleh emaknya.
"Pulang!!" teriak emaknya.
"Iya mak." sambil menahan rasa sakit dan panas di telinganya ia berjalan menuju rumah. Teman-teman yang melihat kejadian itu sentak menertawakan Alif yang digiring emaknya pulang sambil dijewer hingga masuk rumah.
****
"Alif! makan dulu"
"Iya mak"
Alif keluar kamarnya, telinganya masih panas bekas jeweran emak, raut mukanya masih terlihat kesal, kesal karena ia ditertawakan oleh teman-temannya tadi. Langsung saja Alif menuju dapur, mengambil makan di piring dan membawanya ke depan TV.
"Bapak kemana mak? kok nggak pulang-pulang." Ketusan Alif yang hampir tiap malam ini lah yang mengganggu emak, setiap kali Alif bertanya tentang bapaknya emak tidak bisa menahan emosi, dadanya mulai sesak, matanya mulai berkaca-kaca entah sampai kapan emak harus menunggu.
"Bapak lagi kerja lif, buat Alif sekolah. Makanya Alif harus belajar dengan sungguh-sungguh supaya bapak nggak kecewa." terbias senyum palsu di wajah emak, seperti menahan tangis hanya saja emak tidak ingin Alif kecewa. Emak adalah orang yang paling kuat.
"Iya mak." Alif melanjutkan makan.
"Jangan nakal juga!"
"Siapa yang nakal mak, tadi mau ikutan main. Tapi teman-teman nggak mau ngajak Alif main."
"Ya sudah, kalau tidak diajak bermain Alif bisa main sama teman yang lain kan?"
"Iya mak.."
****
"Anak-anak! ayo kumpulkan tugas kalian" seru bu guru.
Satu per satu anak-anak mengumpulkan tugasnya, tapi Alif belum juga maju untuk mengumpulkan tugas, raut wajahnya terlihat panik, ia menggeladah isi tasnya, tapi tidak juga ia temukan buku PRnya, sepertinya buku PRnya tertinggal di rumah.
"Alif segera kumpulkan PR kamu!"
"Buku saya hilang bu, Dini yang ngambil!" Alif menunjuk menyalahkan Dini yang duduk tetap di depannya
Sontak Dini menoleh dan menyangkal tuduhan Alif "bohong bu.."
"Yang benar kamu Alif.." suara bu guru terdengar geram.
"Ya bu!!"
Suasana kelas tiba-tiba berubah menjadi ramai, ada yang menyalahkan Alif, ada yang ngobrol dengan temannya, ada yang bercanda. Bisa kau bayangkan seperti apa kelas saat itu karena introgasi singkat bu guru.
"Diam..!!" gertak bu guru, suasana kelas tiba-tiba sunyi bahkan kau bisa mendengar suara jarum jatuh saat itu, "Alif, Dini.. kalian maju ke depan!!"
Mungkin itulah keputusan bijak bu guru, bu guru adalah orang yang sangat disiplin. Ia tidak suka keramaian dalam kelas.
****
TONG TONG TONG
Suara kentogan sekolah, itu adalah suara yang paling ditunggu, karena suara itu menandakan bahwa sekolah sudah usai. Pelajaran selesai, Alif lekas berdiri dari duduknya dan berlari keluar kelas, ya.. begitulah Alif, ia selalu ingin keluar kelas lebih dahulu dari teman-temannya. Roman wajah senang terlihat pada wajah Alif, karena ia keluar lebih dahulu dari teman-temannya. Ia berjalan gagah layaknya pemenang, merasakan angin kebebasan, seakan-akan keluar dari penjara.
Di tengah keramaian anak-anak keluar sekolah, terdengar suara seperti menyindir Alif. Sindiran yang tidak biasa, biasanya ia disebut si nakal dan ia tidak mempermasalahkan itu, tapi ini berbeda.
"Alif nakal nggak punya bapak" suara yang tidak asing, Dini.
"Aku punya bapak, bapak ku orang yang baik." Alif berbalik langsung menimpali.
"Semua orang tahu kamu nggak punya bapak."
Alif mendorong Dini, tidak terlalu kuat hingga Dini masih bisa berdiri. Alif berbalik dan langsung lari, berlari menuju rumah.
Alif bukan orang yang suka melarikan diri saat ia menjahili temannya, tapi ia berlari dengan pertanyaan yang tidak di ketahuinya, pertanyaan kepada ibunya.
****
Alif sampai di rumah, nafasnya masih terengah-engah. Dibukanya pintu depan rumah, lalu ia berlari ke dapur mencari emak.
"Emak!!"
"Ya, ada apa?" emak sedang memasak di dapur.
"Mak!! bapak kemana? teman Alif bilang semua orang tahu kalau Alif nggak punya bapak."
Emak tertegun mendengar pertanyaan Alif, tanpa sadar air mata emak mengalir tak kuasa menahan sedih, entah alasan apa lagi yang harus emak buat untuk menutupi ketidaktahuan Alif.
"Bapak kemana mak?"
"Bapak kemana?"
BERSAMBUNG...

0 komentar:
Posting Komentar