Rabu, 26 Desember 2012

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ...

Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu ...
...
Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya ...

Dan kematian adalah sesuatu yang pasti ...
Dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu ...

Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat ...

Adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi ...

Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang ...

Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang ...

Pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada ...

Aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau di sini ...

Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang ...
tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik ...

Mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini ...

Selamat jalan ...
Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya ...

kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada ...

selamat jalan sayang ...
cahaya mataku, penyejuk jiwaku ...

selamat jalan ...
calon bidadari surgaku ...

***Cinta yang tumbuh karena iman, amal sholeh dan akhlak yg mulia, akan senantiasa bersemi, tak lekang karena sinar matahari dan tak luntur karena hujan dan tak akan putus karena walaupun ajal menjemput...
 

Posted on Rabu, Desember 26, 2012 by Agung Permana

No comments

Sabtu, 22 Desember 2012

Aqidah tetap tidak boleh dipermainkan.. walau bagaimanapun..

Posted on Sabtu, Desember 22, 2012 by Agung Permana

No comments

Kamis, 20 Desember 2012

Hm,, agak bingung mau mulai cerpennya dari mana?!?! tapi kayaknya biar nggak bosan aku mau ganti sudut pandang ceritanya, habis dari kemarin sudut pandangnya orang pertama mulu, "aku" lagi "aku" lagi.. mulainya kapan ya..?!?! Hm.. sekarang aja deh, abis paragraf ini. haha..

*****

Pada zaman dahulu kala..!! haha.. basi, ganti lah. Suatu hari pada zaman dulu.. kok kayanya sama aja ya..?!?! Argh,, langsung aja ceritanya. Gitu aja kok repot..!! hihi..
Seorang sultan sedang berjalan-jalan di sebuah desa dekat keratonnya, ia ingin sekali jalan-jalan melihat keadaan rakyatnya yang ia pimpin. Hal ini rutin dilakukan sultan tiap dua minggu sekali, lagi pula dengan cara ini sultan bisa melihat langsung keadaan rakyatnya dan bisa menyelesaikan solusi dengan cepat.
Sultan sangat gembira sekali, ia di sambut dengan sopan dengan rakyat-rakyatnya, itu terlihat dari rakyat-rakyatnya yang ia temui di setiap jalan, saat bertemu di jalan ada rakyat yang sedang melakukan aktifitasnya, saat melihat sultan lewat, serentak mereka berhenti dari aktifitasnya lalu tersenyum sambil  memuji sultan yang sangat bijak itu.
Suatu ketika, sultan melihat seorang kakek yang sangat tua, sedang menanam pohon kelapa, sejenak sultan berfikir kenapa di hari tuanya si kakek menanam pohon kelapa, apakah tidak ada anaknya atau cucunya yang membantunya, jika dilihat dari fisik sang kakek sepertinya ia benar-benar sudah tua dan tidak bisa melakukannya sendiri.
Sultan pun mendekati kakek itu, "Wahai kakek, mengapa engkau menanam pohon kelapa di waktu tuamu padahal engkau tahu pohon kelapa lama sekali tumbuh, dan engkau tidak akan mendapatkan hasil dari apa yang kau tanam..??" tanya sang sultan.
"Wahai sultanku, sebenarnya apa yang kita makan ini adalah hasil tanam dari orang sebelum kita." Jawab sang kakek sambil mengeluarkan apel dari bajunya lalu melanjutkan berbicara "Maka kita menanam sekarang untuk orang sesudah kita"
Sang sultan teekejut mendengar pernyataan sang kakek, ia selalu makan dan tidak mengetahui darimana asal semua makanan yang ia makan. Lalu sang sultan berfikir untuk memberi sang kakek imbalan atas apa yang ia lakukan. Langsung saja sang sultan memerintahkan patih yang mengawalnya untuk memberikan satu keping emas.
"Patih..!! berikan sang kakek yang bijak ini sekeping emas" perintah sultan.

"Baik sultan" diberikanlah keping emas itu kepada sang kakek.
Bukannya senang sang kakek bingung lalu bertanya kepada sultan. "Wahai sultan kenapa engkau memberiku uang sebesar hasil panen padahal pohon ini belum saatnya panen, bahkan belum tumbuh."
"Benar juga" sang sultan mengelus-elus dagunya memikirkan perkataan sang kakek. "Patih..!! berikan sang kakek ini sekeping emas lagi."
"Baik sultan." diberikanlah sekeping emas lagi kepada sang kakek.
Sang kakek bertambah bingung. "Wahai sultan, kenapa engkau memberikanku uang panen dua kali, padahal engkau tahu bahwa pohon kelapa ini hanya panen sekali dalam setahun."
"Benar juga." sang sultan membenarkan kata-kata sang kakek. "patih..!! berikan sang kakek ini satu keping emas lagi." perintah sultan.
"Baik sultan." patih pun memberikan satu keping emas lagi.
Sejenak patih bingung lalu berbisik kepada sultan. "Wahai sultan, sebaiknya kita pergi dari tempat ini sebelum emas kita habis"
"Benar juga, saya pun ikut bingung"
"Sultan terlalu baik." timpal sang patih.
Akhirnya sultan pun beranjak dari tempat itu dalam keadaan bingung, karena patih ikut dengan raja, ia pun ikut bingung, dan sang kakek yang tambah bingung yang sebenarnya ingin mengutarakan beberapa pertanyaan lagi, dan penulispun bingung ingin menulis apa lagi. Hm....

****


Ya itulah, cerita pendek pada kesempatan kali ini, semoga teman-teman tidak ikut bingung membacanya. haha..

Pada akhirnya ada yang harus diambil dari cerita ini, bahwa:
apa yang kita makan ini adalah hasil tanam dari orang sebelum kita, Maka sebaiknya kita menanam sekarang untuk orang sesudah kita.
Selesai ah, daripada nambah bingung.......................

Posted on Kamis, Desember 20, 2012 by Agung Permana

No comments

Minggu, 16 Desember 2012

Ini adalah salah satu dari pengalamanku, mungkin aku sebut ini adalah pengalaman indah, maksudku tidak begitu indah, ya,, agak buruk mungkin, bisa aku artikan setengah baik setengah buruk, atau.. kau bisa artikan sendiri, penglaman apa yang aku rasakan ini, baik atau buruk.

****

Berawal dari motor baruku, maksudnya motor yang lama yang baru aku pakai, ya,, gampangnya aku yang kuliah kuliah di Jogja ini baru saja dikirimi motor. Hm,, repot amat Cuma menjelaskan kalau aku baru dikirimi motor dari orang tuaku.
Sebelumnya aku memakai sepeda yang biasanya ku sebut dengan sepeda yang ikut perang, haha.. itu karena sepeda itu adalah sepeda yang paling tua yang pernah aku pakai, ya.. itu adalah sepeda warisan dari adik kakekku, atau biasa aku sebut mbah cilik. Dengar-dengar sepedaku yang sering aku pakai itu ada pada tahun 70-an. Lalu apa hubungannya dengan sepeda yang ikut perang..?!?! orang bilang itu sepeda yang ada pada tahun 70-an tapi aku sebut sepeda yang ikut perang, haha. Padahalkan di tahun 70-an Indonesia udah bebas dari perang.
Hm,, ko jadi ngomongin sepeda ya, padahal cerpen ini prolognya “berawal dari motor baruku”?!?! Ya udah langsung aja lah ke ceritanya….

****

Hari itu hari sabtu, ya.. hari yang sangat membosankan. Harus duduk di ruang kelas padahal aku sendiri tidak ada jadwal kuliah, hari sabtu dan hari minggu libur bro.. tapi kenapa aku harus repot-repot duduk seperti layaknya orang kuliah.
Ya sudahlah, itu bukan hal yang penting, dipikir-pikir ada baiknya juga. Daripada diem di kostan nggak ada kerjaan, mau main game baru baru ingat semua gameku sudah aku hapus. Menyedihkan.. padahal cuma karena masalah kecil aku sudah ngambeknya sampe ngapus semua game. Tapi tetap lebih baik, daripada aku hapus semua e-book fisika. hahaha…
Tapi tiba-tiba ponselku berbunyi, ternyata aku mendapat sms pemberitahuan dari agen jasa pengiriman barang. Tanpa pikir panjang aku langsung mengambil motorku yang ada di agen jasa pengiriman, akhirnya.. aku punya motor.

****

Singkat cerita sekarang hari minggu, seperti hari minggu yang biasa aku lakukan setiap harinya, tanpa kerjaan sama sekali. Mau olah raga males, mau nonton TV.. kayanya pikir-pikir dulu,, acara TV sekarang nggak berbobot, kalau tidak lagu, pasti sinetron.
Di tengah acara TV nggak jelas, tiba-tiba temanku datang, dia adalah agus, teman dari satu daerah, Cilegon.
“Wui gung.. liburan di kostan aja, keluar kemana ke..!!” si agus ngeloyor masuk ke dalam, memang agak kurang sopan, tapi ya begitulah ia.
“Tumben main, pasti ada apa-apanya ni?” aku langsung menginterogasinya.
“Haha.. tahu aja lu gung” logat betawinya si agus muncul “Begini gung, pacar gue kan ulang tahun ni besok, lu bikinin gue lukisan foto pacar gue dong.”
Aku nggak yakin dia cuma minta bikinin gambar, pasti ada yang lain, kedatangan temenku ini pasti aja ada maunya, kalau disuruh main ke kostan pasti ogah-ogahan. Tapi kalau ada maunya nggak usah di undang, pasti udah datang sendiri.
Karena aku sedang nggak mood ngegambar, akhirnya hanya ku buatkan kartu ucapan selamat ulang tahun aja. Lagi pula siapanya aku, bukan pacarku atau siapa itu.
Tapi setelah itu aku ikut ke kostannya agus, karena ia baru saja pndah kostan, sekalian juga main ke kostan agus, daripada diem di kostan sendiri cuma nonton TV yang nggak karuan acara apa yang aku tonton. Sekalian nyobain jalan-jalan naik motor yang baru dikirim juga. Haha..

****

sekarang jam 5 petang, saatnya pamit ke tuan rumah, langsung saja tanpa pikir panjang aku langsung pergi dari kostannya si agus. Dari sinilah masalahnya, ternyata setahun lebih aku di Jogja, route hidupku hanyalah kostan dan kampus.
Padahal tadi aku yakin jalan pulang ke kostanku, sedari tadi aku mengikuti di belakang motor si agus, masa sekarang sudah lupa lagi. Aku mencoba mengingat-ingat jalan yang tadi aku lalui, mungkin ke kanan atau ke kiri mungkin saja lurus. Argh,, aku tersesat.
Sekarang sudah jam 6 petang, aku nggak tahu harus kemana lagi, sejenak terbesit dalam pikiranku untuk balik lagi ke kostannya agus, dan menyuruh untuk memberitahuku jalan, aku ingat habis ini belok ke kanan.
Tapi tiba-tiba da kejadian yang memompa denyut jantungku, membelalak, dan hampir saja aku tersungkur bersama motorku di tengah lampu lalulintas. Spontan aku teriak ke arah belakang "woi,, kalau belok hati-hati." terlihat sebuah mobil hitam mewah bermerek Grand Livina, aku langsung menepi dan tidak jadi belok kanan, sepertinya spakbor belakang ancur gara-gara si pengendara Grand Livina yang sembrono, Hah.. sial tu orang.
Saat aku menepi untuk mengecek spakbor belakang, tiba-tiba ada mobil berhenti di depanku. Itu si pengendara Grand Livina, mungkin ingin meminta maaf atau apa. Tapi sejenak aku berfikir, pintu depan sebelah kiri terbuka, lalu keluar orang besar yang besarnya lebih besar daripadaku. Sial.. ada yang nggak beres ni.
Aku langsung tancap gas, si orang besar meneriakiku entah apa yang ia ucapkan, yang ada di pikiranku sekarang hanyalah ingin pulang. Sudah satu jam aku berkeliaran di jalan tanpa tahu jalan pulang.
Ternyata aku tidak sendiri, entah apa yang aku perbuat. Sepertinya hari ini hari yang sial, aku ditemani si pengendara Grand Livina. Ia mengekoriku sepertinya ia geram, aku dibuntuti hingga berada di jalan kecil untuk pengendara motor. Gila ni orang, niat sekali ingin mengejar. Tapi ada keuntungan yang dapat aku ambil, mobil itu tidak akan muat jika aku menyalip banyak motor, dan untungnya di depanku banyak sekali motor yang tak jelas di jalan kecil untuk pengendara motor itu sehingga membentuk sebuah labirin kecil berbentuk zigzag, hingga sebelum aku memasuki labirin motor itu si pengendara Grand Livina masih saja mengejarku.
Akhirnya aku menghilang dari si pengendara Grand Livina. Dan tebak apa yang aku temukan di ujung jalan, itu adalah perempatan kentungan dekat kostanku, dan untungnya lagi lampu lalulintas sedang menyala hijau. Aku bisa makin jauh dari si Pengendara sialan itu.


****


Akhirnya sampai juga di kostan, setelah sembahyang petang aku langsung berebah, rasanya kejadian hari ini membuatku lemas dan ingin sekali melupakannya, memang hari yang sial.

Tapi aku berfikir mencoba mengambil sisi positif dari kejadian hari ini, tadi aku kalap kehilangan jalan pulang, dan hampir saja aku menghilang di jalanan dan entah kemana nanti aku, trus tiba-tiba aku tertabrak dari belakang, dan bertemu si pengendara Grand Livina yan sialan, dan akhirnya menemukan jalan pulang.
Sejenak aku berfikir, jika aku tidak tertabrak oleng prngrndara yang aku sebut pengendara sialan itu mungkin aku tidak bisa pulang sekarang. Hm.. benar juga ya, mungkin inilah suatu pelajaran baru untukku, bahwa tidak semua jalan yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa langsung semulus jalan yang akan diberi, tapi sejelek apapun itu, tetap di ujung jalan pasti akan ada jalan yang lurus sebagai imbalan atas istiqomahnya kita berjalan di jalannya walaupun itu tidak semulus jalan yang lain.


"Tidak semua kenikmatan dibungkus dengan kenikmatan pula"

Posted on Minggu, Desember 16, 2012 by Agung Permana

No comments

Selasa, 04 Desember 2012

Pemandangan sunset di tempat baksos kulonprogo..

Posted on Selasa, Desember 04, 2012 by Agung Permana

No comments

Sabtu, 01 Desember 2012

Ayo aku yang mana..??

Posted on Sabtu, Desember 01, 2012 by Agung Permana

No comments

kaliurang, lereng gunung merapi..

Posted on Sabtu, Desember 01, 2012 by Agung Permana

No comments