Rabu, 27 Juli 2016

My sister asked me to take off her clothes.

So I took off her shirt.

Then she said, "Take off my skirt."

I took off her skirt.

"Take off my shoes."

I took off her shoes.

"Now take off my bra and panties."

And so I took them off.

Then she looked at me and said, "I don't want to catch you wearing my things ever again."

Posted on Rabu, Juli 27, 2016 by Agung Permana

No comments

Jumat, 15 Juli 2016

Mungkin akan ada yang membutuhkan dari angkatan setelah ku, silahkan dipergunakan.

Judul

STUDI AKUSTIK TENTANG KUALITAS GITAR DILIHAT DARI MATERIAL STRING DAN FREKUENSI NOTASI MUSIK YANG TERSTANDARDISASI

Oleh : Agung Permana (11/316949/PA/14067)

Abstrak

Telah dilakukan penelitian tentang akustik pada instrument gitar dengan menggunakan Visual Analyser sebagai frekuensi meter dan Audacity sebagai tone generator. Penelitian ini memberikan pemahaman tentang kualitas instrument musik khususnya gitar, bahwa penempatan fret pada gitar bisa diketahui melalui material string yang dipakai dan notasi musik yang diinginkan. Metode pengambilan data dalam penelitian ini dengan merekam bunyi yang ditimbulkan oleh gitar dengan penekanan ruang fret sehingga muncul frekuensi yang sesuai notasi musik pada gitar. Hasil dari penelitian ini muncul ide untuk membuat konstanta kesebandingan untuk mempermudah menentukan penempatan fret pada gitar yang bernilai sebagai berikut, string 1 = (2,12 ± 0,01) × 10^2, string 2 = (1,57 ±  0,01) × 10^2, string 3 = (1,24 ± 0,01) × 10^2, string 4 = (9,9 ± 0,1) × 10, string 5 = (7,1 ± 0,1) × 10 dan string 6 = (5,3 ± 0,1) × 10. Hasil tersebut dapat membantu orang – orang pengguna gitar atau pengrajin gitar untuk menentukan standard panjang fret – bridge dari material string yang dipakai pada gitar dan frekuensi notasi musik pada gitar.
Kata kunci: akustik, gitar, Visual Analyser, frekuensi, konstanta kesebandingan.

Posted on Jumat, Juli 15, 2016 by Agung Permana

No comments

Senin, 13 Juni 2016

Kalau ga mau, jangan dibuang..
Aku cuma punya satu..

Posted on Senin, Juni 13, 2016 by Agung Permana

No comments

Selasa, 26 April 2016

Mungkin ada benernya juga, kenapa akhir-akhir ini aku sering gelisah, terasa hampa, hidup tapi seperti tak bernyawa. Aku beranggapan bahwa itu semua karena banyak pikiran, atau butuh hiburan. Tapi nyatanya, sering meluangkan waktu untuk main, seminggu lalu bahkan jalan-jalan ke Pacitan, tapi tetap saja hampa.
Aku melihat tulisan di wall facebook hari ini, entah tulisan siapa aku juga lupa. Tulisannya seperti ini "Gelisah bukan berarti butuh wisata, tapi kurang beribadah". Mungkin dia benar!! Mungkin aku kurang ibadah.. Astagfirullah.

Posted on Selasa, April 26, 2016 by Agung Permana

No comments

Senin, 25 April 2016

You know that I always pretended to be something, but I never pretended to be sad, when I was sad, it's a real me..

Posted on Senin, April 25, 2016 by Agung Permana

No comments

Rabu, 13 April 2016

Tidak harus aku umumkan bahwa aku berubah, tidak harus KAN? Tidak harus aku beritahu jika aku melakukan sesuatu, tidak harus KAH? 

Tapi..

Harus aku beritahu pada tujuan aku berubah, harus KAH? Harus ada yang tahu karena aku beritahu yaitu yang maha mengetahui, harus KAN?

Posted on Rabu, April 13, 2016 by Agung Permana

No comments

Rindu bukan lagi sebuah kata, bukan juga istilah. Sebuah rindu yang bukan untuk diungkapkan. Rindu yang aku perjuangkan sendiri, yang aku buat sendiri tapi bukan untuk dirindu. Hingga akhir nanti akan aku jemput rindu, bukan karena aku rindu. Tapi karena aku berhasil menaklukan rindu.

Posted on Rabu, April 13, 2016 by Agung Permana

No comments

Selasa, 01 Maret 2016

Santri     : "Ini semua gara-gara Nabi Adam, ya Gus!"
Gus Dur : "Loh, kok tiba-tiba menyalahkan Nabi Adam, kenapa Kang."
Santri     : "Lah iya, Gus. Gara-gara Nabi Adam dulu makan buah terlarang, kita sekarang merana. Kalau Nabi Adam dulu enggak tergoda Iblis kan kita anak cucunya ini tetap di surga. Enggak kayak sekarang, sudah tinggal di bumi, eh ditakdirkan hidup di Negara terkorup, sudah begitu jadi orang miskin pula. Emang seenak apa sih rasanya buah itu, Gus?"
Gus Dur : "Ya tidak tahulah, saya kan juga belum pernah nyicip. Tapi ini sih bukan soal rasa. Ini soal khasiatnya."
Santri   : "Kayak obat kuat aja pake khasiat segala. Emang Iblis bilang khasiatnya apa sih, Gus? Kok Nabi Adam bisa sampai tergoda?"
Gus Dur : "Iblis bilang, kalau makan buah itu katanya bisa menjadikan Nabi Adam abadi."
Santri     : "Anti-aging gitu, Gus?"
Gus Dur : "Iya. Pokoknya kekal."
Santri     : "Terus Nabi Adam percaya, Gus? Sayang, iblis kok dipercaya."
Gus Dur : "Lho, Iblis itu kan seniornya Nabi Adam."
Santri     : "Maksudnya senior apa, Gus?"
Gusdur   : "Iblis kan lebih dulu tinggal di surga dari pada Nabi Adam dan Siti Hawa."
Santri      : "Iblis tinggal di surga? Masak sih, Gus?"
Gus Dur  : "Iblis itu dulunya juga penghuni surga, terus di usir, lantas untuk menggoda Nabi Adam, iblis menyelundup naik ke surga lagi dengan berserupa ular dan mengelabui merak sang burung surga, jadi iblis bisa membisik dan menggoda Nabi Adam."
Santri     : "Oh iya, ya. Tapi, walau pun Iblis yang bisikin, tetap saja Nabi Adam yang salah. Gara–garanya, aku jadi miskin kayak gini."
Gus Dur : "Kamu salah lagi, Kang. Manusia itu tidak diciptakan untuk menjadi penduduk surga. Baca surat Al-Baqarah : 30. Sejak awal sebelum Nabi Adam lahir… eh, sebelum Nabi Adam diciptakan, Tuhan sudah berfirman ke para malaikat kalo Dia mau menciptakan manusia yang menjadi khalifah (wakil Tuhan) di bumi."
Santri      : "Lah, tapi kan Nabi Adam dan Siti Hawa tinggal di surga?"
Gus Dur  : "Iya, sempat, tapi itu cuma transit. Makan buah terlarang atau tidak, cepat atau lambat, Nabi Adam pasti juga akan diturunkan ke bumi untuk menjalankan tugas dari-Nya, yaitu memakmurkan bumi. Di surga itu masa persiapan, penggemblengan. Di sana Tuhan mengajari Nabi Adam bahasa, kasih tahu semua nama benda. (lihat Al- Baqarah : 31).
Santri      : "Jadi di surga itu cuma sekolah gitu, Gus?"
Gus Dur : "Kurang lebihnya seperti itu. Waktu di surga, Nabi Adam justru belum jadi khalifah. Jadi khalifah itu baru setelah beliau turun ke bumi."
Santri      : "Aneh."
Gus Dur  : "Kok aneh? Apanya yang aneh?"
Santri      : "Ya aneh, menyandang tugas wakil Tuhan kok setelah Nabi Adam gagal, setelah tidak lulus ujian, termakan godaan Iblis? Pendosa kok jadi wakil Tuhan."
Gus Dur : "Lho, justru itu intinya. Kemuliaan manusia itu tidak diukur dari apakah dia bersih dari kesalahan atau tidak. Yang penting itu bukan melakukan kesalahan atau tidak melakukannya. Tapi bagaimana bereaksi terhadap kesalahan yang kita lakukan. Manusia itu pasti pernah keliru dan salah, Tuhan tahu itu. Tapi meski demikian nyatanya Allah memilih Nabi Adam, bukan malaikat."
Santri     : "Jadi, tidak apa-apa kita bikin kesalahan, gitu ya, Gus?"
Gus Dur : "Ya tidak seperti itu juga. Kita tidak bisa minta orang untuk tidak melakukan kesalahan. Kita cuma bisa minta mereka untuk berusaha tidak melakukan kesalahan. Namanya usaha, kadang berhasil, kadang enggak."
Santri     : "Lalu Nabi Adam berhasil atau tidak, Gus?"
Gus Dur : "Dua-duanya."
Santri     : "Kok dua-duanya?"
Gus Dur : "Nabi Adam dan Siti Hawa melanggar aturan, itu artinya gagal. Tapi mereka berdua kemudian menyesal dan minta ampun. Penyesalan dan mau mengakui kesalahan, serta menerima konsekuensinya (dilempar dari surga), adalah keberhasilan."
Santri     : "Ya kalo cuma gitu semua orang bisa. Sesal kemudian tidak berguna, Gus."
Gus Dur : "Siapa bilang? Tentu saja berguna dong. Karena menyesal, Nabi Adam dan Siti Hawa dapat pertobatan dari Tuhan dan dijadikan khalifah (lihat Al-Baqarah: 37). Bandingkan dengan Iblis, meski sama-sama diusir dari surga, tapi karena tidak tobat, dia terkutuk sampe hari kiamat."
Santri      : "Ooh…"
Gus Dur : "Jadi intinya begitulah. Melakukan kesalahan itu manusiawi. Yang tidak manusiawi, ya yang iblisi itu kalau sudah salah tapi tidak mau mengakui kesalahannya justru malah merasa bener sendiri, sehingga menjadi sombong."
Santri      : "Jadi kesalahan terbesar Iblis itu apa, Gus? Tidak mengakui Tuhan?"
Gus Dur  : "Iblis bukan atheis, dia justru monotheis. Percaya Tuhan yang satu."
Santri      : "Masa sih, Gus?"
Gus Dur  : "Lho, kan dia pernah ketemu Tuhan, pernah dialog segala kok."
Santri      : "Terus, kesalahan terbesar dia apa?"
Gus Dur  : "Sombong, menyepelekan orang lain dan memonopoli kebenaran."
Santri      : "Wah, persis cucunya Nabi Adam juga tuh."
Gus Dur  : "Siapa? Ente?"
Santri     :  "Bukan. Cucu Nabi Adam yang lain, Gus. Mereka mengaku yang paling bener, paling sunnah, paling ahli surga. Kalo ada orang lain berbeda pendapat akan mereka serang. Mereka tuduh kafir, ahli bid'ah, ahli neraka. Orang lain disepelekan. Mereka mau orang lain menghormati mereka, tapi mereka tidak mau menghormati orang lain. Kalau sudah marah nih, Gus. Orang-orang ditonjokin, barang-barang orang lain dirusak, mencuri kitab kitab para ulama. Setelah itu mereka bilang kalau mereka pejuang kebenaran. Bahkan ada yang sampe ngebom segala loh."
Gus Dur   : "Wah, persis Iblis tuh."
Santri       : "Tapi mereka siap mati, Gus. Karena kalo mereka mati nanti masuk surga katanya."
Gus Dur   : "Siap mati, tapi tidak siap hidup."
Santri       : "Bedanya apa, Gus?"
Gus Dur   : "Orang yang tidak siap hidup itu berarti tidak siap menjalankan agama."
Santri       : "Lho, kok begitu?"
Gus Dur  : "Nabi Adam dikasih agama oleh Tuhan kan waktu diturunkan ke bumi (lihat Al- Baqarah: 37). Bukan waktu di surga."
Santri        : "Jadi, artinya, agama itu untuk bekal hidup, bukan bekal mati?"
Gus Dur    : "Pinter kamu, Kang!"
Santri        : "Santrinya siapa dulu dong? Gus Dur."

Sumber : Perpustakaan Universitas Menyan Indonesia (UMI)

Posted on Selasa, Maret 01, 2016 by Agung Permana

No comments

“Kita tidak perlu membuktikan pada siapapun bahwa kita itu baik. Buat apa? Sama sekali tidak perlu. Jangan merepotkan diri sendiri dengan penilaian orang lain. Karena toh, kalaupun orang lain menganggap kita demikian, pada akhirnya tetap kita sendiri yang tahu persis apakah kita memang sebaik itu.”

*Tere Liye, novel "RINDU"

Posted on Selasa, Maret 01, 2016 by Agung Permana

No comments

Kamis, 18 Februari 2016

KEBAYANG DAH KALO BANCI JADI PRAMUGARI???
TRUS NGOMONG KAYAK GINI DIPESAWAT.

"Eheemm... Para pere n lekong, yuhuu... atensiong pliss deyh...
Bekudis tempel semen,
alias ledis n jentelmen... sesuai peraturan penerbangan,
jadi eike mawar melati 
anggrek berbunga-bunga sepanjang hari,tawarin yeiy cara pakarena tu sabuk pengaman yeiy..
KODIM kale aah pengaman...!!

Coba sindang liat eike cara pasang itu sabuk yang ngelilit dipinggang yiey,
cara ngunciin biar yiey enggong klepas nanti kalo pesawatnya tubrukan,
cucok kan??!!!

Baju ngapung ada di bawah kursi yeiy,
jangan dipakai kecuali nanti mas kapiten ngajak yeiy2 semua berenang bareng ya boo!!!

Eit jangan lupita,
itu barang jangan yeiy pindah-pindahin ya,
apalagi dibawa polo kerumah...
Najis tralala tau..
Terus yang ketauan sama eike,bakalan ditabok kanan kiri atas bawah depan belakang deh iih...

Cara makarena nya,
itu bejes dikalungin di leher yeiy.
Etong-etong jangan sampe kekencengan ntar yeiy gak bisa napas ya booo...

Oke deehh capcuuuss terbang...
Jengong lupita berdoa ye cyinnn emmmm....

Posted on Kamis, Februari 18, 2016 by Agung Permana

No comments

Minggu, 07 Februari 2016

Yak.. begini lah nasib golongan darah AB rhesus negatif, tiap ada donor darah pasti diundang, dikasihtahu lewat sms sama PMI Jogja. heuheu..

Posted on Minggu, Februari 07, 2016 by Agung Permana

No comments

Berawal dari rasa kagum, terus suka, rasa ingin memiliki, terus kecewa dan akhirnya patah hati. Dan semua dirasain sendiri.
Sebelum semua terjadi, atau memang udah terjadi.

Posted on Minggu, Februari 07, 2016 by Agung Permana

No comments

Minggu, 31 Januari 2016

Hi guys, I just want to tell that I am desperate and frustated because of one thing, paper. I am not kidding for being frustated because of it. Ya, it's simple - but it's too meaning. It draws my feeling and my heart.
It's not a love letter, nor poetry. It's only papper. And it has a relief says "I love you". I made it by self, i made it with heart, and I aim that paper to someone.
But it has been along time the paper in my bag, and I don't know how long. I am affraid of giving it to her, I don't have courage to give it, I was nerveous, I have a lot of chance to give it, but I don't take it. I feel stupid.
I tried to create my own chance, I wish I can give it. But the reality says different, I can't even talk much in front of her.
Then I tried another way, I practiced to speak, I created my conversation preparation, I built my courage to give it. When I has enough courage to give, she is gone, and it will be only the undelivered paper.

Posted on Minggu, Januari 31, 2016 by Agung Permana

No comments

Minggu, 24 Januari 2016

Kita diperkenalkan oleh orang yang menyakiti kita, supaya kita bisa menghargai orang yang membuat kita tertawa..

Posted on Minggu, Januari 24, 2016 by Agung Permana

No comments