Dia adalah Lucy – seorang gadis kecil yang penyendiri, orang menyebutnya aneh. Dia tidak seperti anak-anak pada umumnya, Lucy tidak suka bermain dengan teman-teman. Teman! Mungkin dia tidak punya. Ya, dia tidak terlalu pandai dalam bergaul, tidak terlalu bisa berbaur dengan yang lainnya, hingga akhirnya orang lain tidak ingin bermain dengannya karena ia tidak asyik. Dan orang lain menyebutnya aneh.
Untuk seorang anak yang seumurannya, seharusnya bermain menjadi hal yang mengasyikkan, tapi apa daya, dia hanya bisa melihat teman-teman sebayanya bermain melalui jendela, wajahnya senang saat ia melihat sebayanya berlarian, di dalam raut wajahnya tersirat keinginan untuk mengikuti mereka, berlari, jatuh, tertawa, menangis, pulang dengan wajah riang gembira. Tapi tetap saja sebayanya tidak mau menerima karena ia orang yang aneh.

Ayah Lucy adalah seorang pembisnis yang sukses, dia dia tidak punya banyak waktu untuk bermain dengan Lucy, tapi setiap ia pulang dari kantor tempat ia bekerja, Lucy lah orang pertama yang selalu ingin ia temui. Ayah Lucy tahu diamana ia bisa menemukan Lucy, ya – jelas ada di kamarnya. Ayah Lucy selalu khawatir pada Lucy yang setiap kali ia temukan selalu memandangi luar tempat dimana anak-anak sejawadnya bermain. Suatu ketika ayahnya pulang membawa anjing kecil untuk menjadi teman Lucy, Lucy terkejut dan sangat senang dengan kejutan yang ayahnya berikan.
Lucy selalu bermain dengan anjingnya, kemana saja dia berada - anjingnya selalu ada di sampingnya, ia selalu mengajak anjingnya untuk jalan-jalan setiap sore dan berlari di pinggir sungai, berjatuhan di bukit, bahkan saat Lucy menangis karena ia benar-benar jatuh anjingnya pun selalu menemani. Dan mereka berdua selalu pulang dari bermain dengan wajah riang gembira.
Setahun lamanya, anjing Lucy kini sudah mulai besar, Lucy mengajarinya beberapa perintah, dari mulai duduk, berdiri, dan yang paling dia ajarkan adalah untuk menunggu. Hanya dengan mengucapkan kata "tunggu!" anjing Lucy tak akan kemana-mana, bahkan saat di depan anjing itu ada makanan, ia tetap menunggu hingga akhirnya Lucy berkata "selesai". Anjing Lucy menjadi sangat pintar dan menarik perhatian orang-orang.
Suatu ketika, Lucy ingin pergi ke minimarket dan di depan tertulis anjing dilarang masuk, seketika itu pula Lucy berkata pada anjingnya "Tunggu!" anjing itu pun duduk tenang menunggu Lucy berbelanja di minimarket. Lucy hanya ingin membeli permen, saat ia keluar minimarket, anjingnya masih menunggu di depan pintu minimarket dengan ekornya yang berkibas-kibas di tanah lalu Lucy berkata "selesai!" dan anjingnya pun berdiri dan menghampiri Lucy, dan Lucy pun memberikan satu permennya untuk anjingnya yang pintar itu.
Tanpa sadar, teman-teman sebayanya melihat apa yang dilakukan Lucy pada anjingnya, mereka tertarik dengan kepintaran anjingnya dan mendekati Lucy. "Wow, bagaimana kau melakukan itu pada anjing mu?" tanya seorang temannya.
"Mudah saja, tinggal katakan 'tunggu!' padanya"
"Keren, boleh aku mencobanya?"
"Silahkan"
"Tunggu!" anjing Lucy pun duduk dan menunggu, anak-anak di sana senang melihat kepintaran anjingnya.
Setelah kejadian di depan minimarket, teman Lucy banyak yang bermain ke rumahnya, teman-temannya ingin bermain dengan anjing pintarnya Lucy. Lucy pun sangat bahagia kini dia punya banyak teman karena teman anjingnya yang pintar ia bisa membawa teman kepada Lucy. Kini Lucy selalu bermain dengan teman-temannya.
Suatu ketika, Lucy dan teman-temannya ingin bermain di luar rumah karena bosan bermain di dalam rumah, Lucy yang sedari dulu ingin sekali bermain dengan sebayanya di luar rumah sangat senang diajak teman-teman bermain di luar rumah.
Saat Lucy hendak keluar rumah, anjingnya mengikuti di belakangnya, Lucy tidak sedang ingin bermain dengan anjingnya, Lucy terdiam saat ingin membuka pintu, anjingnya tetap mengikuti dan ingin bermain dengan Lucy, tapi akan sangat mengganggu jika anjingnya ikut.
Lucy berfikir sejenak ingin mengajaknya atau tidak, ia menoleh ke arah teman-temannya yang sudah menunggu di luar pagar. "Ayo cepat Lucy, tinggalkan saja anjingmu!"
"Tunggu!" anjingnya pun duduk dan menunggu di belakang pintu. Dengan berat hati Lucy meninggalkan anjingnya.
Hari demi hari, anjingnya pun selalu menunggu Lucy di belakang pintu saat ia bermain dengan teman-temannya, Lucy selalu disambut oleh anjingnya saat ia pulang bermain, ia selalu memeluknya erat-erat saat ia pulang.
Suatu ketika ayahnya pulang membawa kabar duka, bisnisnya hancur dan semua barangnya disita termasuk rumahnya. Lucy dan sekeluarga akhirnya pergi meninggalkan rumahnya beserta anjingnya.
Lucy dan sekeluarga menjadi gelandangan dan tinggal di pinggiran jalan, ayahnya tetap bekerja serabutan menjadi kuli bangunan demi menghidupi keluarga.
Hari demi hari mereka lalui bersama tanpa tempat tinggal yang layak, hingga suatu ketika ayah Lucy memutuskan untuk meninggalkan anjingnya untuk hidup sendiri, karena ayahnya tidak sanggup menafkahi satu keluarga beserta anjingnya. Lucy sangat sedih mendengar keputusan ayahnya untuk meninggalkan anjingnya untuk hidup di alam bebas sendiri, Lucy hanya bisa mengiyakan keputusan sekeluarga untuk melepas anjingnya.
Lucy membawa anjingnya ke tanah lapang dekat perumahan untuk melepas anjingnya, siapa tahu ada orang yang mau mengurus anjingnya lebih baik dari pada keluarga Lucy, keadaan yang sangat mengharukan bagi Lucy untuk melepas anjingnya, Lucy membawa anjingnya di tengah lapang dan berpaling meninggalkannya, akan tetapi anjingnya mengikuti tetap mengikuti Lucy saat ia pergi, ia membawa anjingnya lagi ke tengah lapangan dan meninggalkannya lagi, tapi tetap saja anjingnya mengikuti Lucy, hingga Lucy membawa anjingnya ke tengah lapangan dan berkata "Tunggu!" lalu meninggalkannya.
Dua bulan berlalu, Lucy dan keluarga kini sudah punya tempat tinggal, saitu sebuah kontrakan kecil di pinggir kota, suatu ketika Lucy teringat dengan anjingnya dan ingin sekali menemuinya, ia sangat ingat sekali tempat dimana ia meniggalkannya, dalam benaknya anjingnya mungkin sekarang sudah hidup di rumah orang dengan rumah yang mewah. Akhirnya, Lucy pun memutuskan untuk pergi lagi ke lapangan tempat ia meninggalkan anjingnya untuk mengenang anjingnya yang menjadi teman pertamanya.
Suatu hal yang mengejutkan saat ia sampai di lapangan, hal yang selama ini ia perkirakan bahwa anjingnya sudah tinggal dengan orang dengan rumah yang besar ternyata hanya khayalan belaka. Lucy melihat seekor anjing yang sudah terbujur tak bergerak, entah pingsan atau memang benar-benar mati, air matanya tak tertahan lagi dan tiba-tiba mengalir deras di pipinya, Lucy mendekati anjingnya perlahan-lahan, ia sangat tahu kalau itu adalah anjingnya. Air matanya tak tertahan lagi saat ia mendekati anjingnya, Lucy duduk terjatuh dari berdirinya tepat di depan anjingnya yang sudah tidak bergerak sama sekali.
Tanpa sadar, ada seorang kakek yang mendekati Lucy yang menangis di depan seekor anjing, "Mengenaskan bukan? ia ditinggalkan tuannya di sini, dan ia selalu duduk menunggu tuannya datang, orang-orang disini sangat iba, orang-orang memberinya makan tapi anjing itu tidak memakannya, dan lama-kelamaan orang-orang meninggalkannya".
Lucy yang mendengar pembicaraan kakek tentang anjingnya, itu adalah perkataan yang sangat memilukan, kini air matanya benar-benar tak terbendung, Lucy menangis sekencang-kencangnya mendengar ucapan sang kakek.
"Hiks, kenapa? Hiks.. kenapa kamu tetap menunggu di sini? Hiks.. kenapa kamu tidak ikut orang lain yang ingin merawatmu?"
"Oh.. aku mengerti, jadi kamu adalah pemilik anjing ini".
"Iya.. aku meninggalkannya supaya ia bisa hidup bebas karena keluarga ku sudah tidak mampu membarinya makan. Hiks.." tangis Lucy sudah tidak tak bisa dibendung lagi.
"Tenanglah nak, ia sudah tenang di alam sana" lanjut kakek menenangkan Lucy.
"Dimana lagi aku bisa menemukannya? ia adalah teman pertamaku. Diamana aku bisa menemukannya?"
"DI BELAKANGMU"