Senin, 14 Desember 2015

Mungkin banyak teman-temanku yang tidak tahu kalau aku suka menulis, buat cerpen, puisi, menulis kata-kata abstrak. Bukan karena tidak percaya denganku, tapi tidak percaya dengan penampilan dan kepribadianku.. We Ka We Ka We Ka

Eeeuuuuhhh..

Posted on Senin, Desember 14, 2015 by Agung Permana

No comments

Selasa, 10 November 2015

Dia adalah Lucy – seorang gadis kecil yang penyendiri, orang menyebutnya aneh. Dia tidak seperti anak-anak pada umumnya, Lucy tidak suka bermain dengan teman-teman. Teman! Mungkin dia tidak punya. Ya, dia tidak terlalu pandai dalam bergaul, tidak terlalu bisa berbaur dengan yang lainnya, hingga akhirnya orang lain tidak ingin bermain dengannya karena ia tidak asyik. Dan orang lain menyebutnya aneh.
Untuk seorang anak yang seumurannya, seharusnya bermain menjadi hal yang mengasyikkan, tapi apa daya, dia hanya bisa melihat teman-teman sebayanya bermain melalui jendela, wajahnya senang saat ia melihat sebayanya berlarian, di dalam raut wajahnya tersirat keinginan untuk mengikuti mereka, berlari, jatuh, tertawa, menangis, pulang dengan wajah riang gembira. Tapi tetap saja sebayanya tidak mau menerima karena ia orang yang aneh.

Ayah Lucy adalah seorang pembisnis yang sukses, dia dia tidak punya banyak waktu untuk bermain dengan Lucy, tapi setiap ia pulang dari kantor tempat ia bekerja, Lucy lah orang pertama yang selalu ingin ia temui. Ayah Lucy tahu diamana ia bisa menemukan Lucy, ya – jelas ada di kamarnya. Ayah Lucy selalu khawatir pada Lucy yang setiap kali ia temukan selalu memandangi luar tempat dimana anak-anak sejawadnya bermain. Suatu ketika ayahnya pulang membawa anjing kecil untuk menjadi teman Lucy, Lucy terkejut dan sangat senang dengan kejutan yang ayahnya berikan.
Lucy selalu bermain dengan anjingnya, kemana saja dia berada - anjingnya selalu ada di sampingnya, ia selalu mengajak anjingnya untuk jalan-jalan setiap sore dan berlari di pinggir sungai, berjatuhan di bukit, bahkan saat Lucy menangis karena ia benar-benar jatuh anjingnya pun selalu menemani. Dan mereka berdua selalu pulang dari bermain dengan wajah riang gembira.
Setahun lamanya, anjing Lucy kini sudah mulai besar, Lucy mengajarinya beberapa perintah, dari mulai duduk, berdiri, dan yang paling dia ajarkan adalah untuk menunggu. Hanya dengan mengucapkan kata "tunggu!" anjing Lucy tak akan kemana-mana, bahkan saat di depan anjing itu ada makanan, ia tetap menunggu hingga akhirnya Lucy berkata "selesai". Anjing Lucy menjadi sangat pintar dan menarik perhatian orang-orang.
Suatu ketika, Lucy ingin pergi ke minimarket dan di depan tertulis anjing dilarang masuk, seketika itu pula Lucy berkata pada anjingnya "Tunggu!" anjing itu pun duduk tenang menunggu Lucy berbelanja di minimarket. Lucy hanya ingin membeli permen, saat ia keluar minimarket, anjingnya masih menunggu di depan pintu minimarket dengan ekornya yang berkibas-kibas di tanah lalu Lucy berkata "selesai!" dan anjingnya pun berdiri dan menghampiri Lucy, dan Lucy pun memberikan satu permennya untuk anjingnya yang pintar itu.
Tanpa sadar, teman-teman sebayanya melihat apa yang dilakukan Lucy pada anjingnya, mereka tertarik dengan kepintaran anjingnya dan mendekati Lucy. "Wow, bagaimana kau melakukan itu pada anjing mu?" tanya seorang temannya.
"Mudah saja, tinggal katakan 'tunggu!' padanya"
"Keren, boleh aku mencobanya?"
"Silahkan"
"Tunggu!" anjing Lucy pun duduk dan menunggu, anak-anak di sana senang melihat kepintaran anjingnya.
Setelah kejadian di depan minimarket, teman Lucy banyak yang bermain ke rumahnya, teman-temannya ingin bermain dengan anjing pintarnya Lucy. Lucy pun sangat bahagia kini dia punya banyak teman karena teman anjingnya yang pintar ia bisa membawa teman kepada Lucy. Kini Lucy selalu bermain dengan teman-temannya.
Suatu ketika, Lucy dan teman-temannya ingin bermain di luar rumah karena bosan bermain di dalam rumah, Lucy yang sedari dulu ingin sekali bermain dengan sebayanya di luar rumah sangat senang diajak teman-teman bermain di luar rumah.
Saat Lucy hendak keluar rumah, anjingnya mengikuti di belakangnya, Lucy tidak sedang ingin bermain dengan anjingnya, Lucy terdiam saat ingin membuka pintu, anjingnya tetap mengikuti dan ingin bermain dengan Lucy, tapi akan sangat mengganggu jika anjingnya ikut.
Lucy berfikir sejenak ingin mengajaknya atau tidak, ia menoleh ke arah teman-temannya yang sudah menunggu di luar pagar. "Ayo cepat Lucy, tinggalkan saja anjingmu!"
"Tunggu!" anjingnya pun duduk dan menunggu di belakang pintu. Dengan berat hati Lucy meninggalkan anjingnya.
Hari demi hari, anjingnya pun selalu menunggu Lucy di belakang pintu saat ia bermain dengan teman-temannya, Lucy selalu disambut oleh anjingnya saat ia pulang bermain, ia selalu memeluknya erat-erat saat ia pulang.
Suatu ketika ayahnya pulang membawa kabar duka, bisnisnya hancur dan semua barangnya disita termasuk rumahnya. Lucy dan sekeluarga akhirnya pergi meninggalkan rumahnya beserta anjingnya.
Lucy dan sekeluarga menjadi gelandangan dan tinggal di pinggiran jalan, ayahnya tetap bekerja serabutan menjadi kuli bangunan demi menghidupi keluarga.
Hari demi hari mereka lalui bersama tanpa tempat tinggal yang layak, hingga suatu ketika ayah Lucy memutuskan untuk meninggalkan anjingnya untuk hidup sendiri, karena ayahnya tidak sanggup menafkahi satu keluarga beserta anjingnya. Lucy sangat sedih mendengar keputusan ayahnya untuk meninggalkan anjingnya untuk hidup di alam bebas sendiri, Lucy hanya bisa mengiyakan keputusan sekeluarga untuk melepas anjingnya.
Lucy membawa anjingnya ke tanah lapang dekat perumahan untuk melepas anjingnya, siapa tahu ada orang yang mau mengurus anjingnya lebih baik dari pada keluarga Lucy, keadaan yang sangat mengharukan bagi Lucy untuk melepas anjingnya, Lucy membawa anjingnya di tengah lapang dan berpaling meninggalkannya, akan tetapi anjingnya mengikuti tetap mengikuti Lucy saat ia pergi, ia membawa anjingnya lagi ke tengah lapangan dan meninggalkannya lagi, tapi tetap saja anjingnya mengikuti Lucy, hingga Lucy membawa anjingnya ke tengah lapangan dan berkata "Tunggu!" lalu meninggalkannya.
Dua bulan berlalu, Lucy dan keluarga kini sudah punya tempat tinggal, saitu sebuah kontrakan kecil di pinggir kota, suatu ketika Lucy teringat dengan anjingnya dan ingin sekali menemuinya, ia sangat ingat sekali tempat dimana ia meniggalkannya, dalam benaknya anjingnya mungkin sekarang sudah hidup di rumah orang dengan rumah yang mewah. Akhirnya, Lucy pun memutuskan untuk pergi lagi ke lapangan tempat ia meninggalkan anjingnya untuk mengenang anjingnya yang menjadi teman pertamanya.
Suatu hal yang mengejutkan saat ia sampai di lapangan, hal yang selama ini ia perkirakan bahwa anjingnya sudah tinggal dengan orang dengan rumah yang besar ternyata hanya khayalan belaka. Lucy melihat seekor anjing yang sudah terbujur tak bergerak, entah pingsan atau memang benar-benar mati, air matanya tak tertahan lagi dan tiba-tiba mengalir deras di pipinya, Lucy mendekati anjingnya perlahan-lahan, ia sangat tahu kalau itu adalah anjingnya. Air matanya tak tertahan lagi saat ia mendekati anjingnya, Lucy duduk terjatuh dari berdirinya tepat di depan anjingnya yang sudah tidak bergerak sama sekali.
Tanpa sadar, ada seorang kakek yang mendekati Lucy yang menangis di depan seekor anjing, "Mengenaskan bukan? ia ditinggalkan tuannya di sini, dan ia selalu duduk menunggu tuannya datang, orang-orang disini sangat iba, orang-orang memberinya makan tapi anjing itu tidak memakannya, dan lama-kelamaan orang-orang meninggalkannya".
Lucy yang mendengar pembicaraan kakek tentang anjingnya, itu adalah perkataan yang sangat memilukan, kini air matanya benar-benar tak terbendung, Lucy menangis sekencang-kencangnya mendengar ucapan sang kakek.
"Hiks, kenapa? Hiks.. kenapa kamu tetap menunggu di sini? Hiks.. kenapa kamu tidak ikut orang lain yang ingin merawatmu?"
"Oh.. aku mengerti, jadi kamu adalah pemilik anjing ini".
"Iya.. aku meninggalkannya supaya ia bisa hidup bebas karena keluarga ku sudah tidak mampu membarinya makan. Hiks.." tangis Lucy sudah tidak tak bisa dibendung lagi.
"Tenanglah nak, ia sudah tenang di alam sana" lanjut kakek menenangkan Lucy.
"Dimana lagi aku bisa menemukannya? ia adalah teman pertamaku. Diamana aku bisa menemukannya?"
"DI BELAKANGMU"

Posted on Selasa, November 10, 2015 by Agung Permana

1 comment

Rabu, 28 Oktober 2015

Semua langit itu sama...
Mereka tidak membedakan orang satu dengan lain.
Mereka menyinari semua orang dengan sinar yang sama.

Tapi terkadang mereka menguji kita.
Ketika malam datang...
Matahari digelapkan oleh mendung dan hujan.

Meski begitu, kita tak kehilangan arah.
Tak ada malam yang tak berakhir.
Tak ada hujan yang tak berhenti.

Selama matahari itu bersinar di hati kita,
kita takkan kehilangan arah.

Tapi kita tak sadar bahwa...
Semakin terang matahari bersinar,
semakin gelap bayangan yang terbentuk.

Posted on Rabu, Oktober 28, 2015 by Agung Permana

No comments

Sabtu, 24 Oktober 2015

Waktu adalah hadiah terindah, saat seseorang memberikan sebagian dari waktunya, sebenarnya ia memberikan sebagian dari hidupnya yang tak bisa terulang.. :)

Posted on Sabtu, Oktober 24, 2015 by Agung Permana

No comments

Selasa, 06 Oktober 2015

A

Kesendirian memang damai, tapi kau tidak bisa berbagi kebahagiaan.

KHYT

Posted on Selasa, Oktober 06, 2015 by Agung Permana

No comments

Jumat, 04 September 2015

I got article about PEDOT, reading word by  word, sentence by sentence, then... what?! I got this paragraph, hahaha..



Posted on Jumat, September 04, 2015 by Agung Permana

No comments

Sabtu, 30 Mei 2015

Pagi! ya, sekarang pagi, tidak ada yang spesial di pagi ini lagi, semua sama seperti hari-hari biasanya, hari dimana semua orang memulai aktivitasnya. Di kota ini, pagi hanyalah pagi, yang berbeda hanya cuaca yang sedikit sejuk, mungkin 2 jam lagi akan mulai panas, kau pasti tahu kota apa ini, kota dimana orang hanya memikirkan dirinya sendiri, semua orang sibuk dengan urusannya sendiri, tidak memikirkan orang sekitarnya yang penting aku menang. Ya, ini Jakarta.
Aku sendiri salah satu penduduknya, salah satu penduduk yang tak beruntung, tinggal di perumahan kumuh dengan ayahku yang bekerja dengan membuka kedai mie ayam, kedai ini buka jam 11 dan aku selalu benci jam 11, untung aku harus sekolah jadi jam 11 bisa terlewatkan beberapa jam sebelum aku pulang ke rumah, dan aku benci saat di rumah, rasanya seperti bukan di rumah, teras rumah pun tidak seperti teras rumah yang bisa digunakan untuk ngaso tapi ini teras kedai mie ayam.
Lalu ibu, jangan tanyakan ibu kepadaku, atau pada ayahku. Ibu adalah anugrah terindah dari keluarga kami, saat ia masih ada kami tinggal di perumahan estate, ayah masih bekerja di perusahaan asuransi, aku bisa ke sekolah sendiri dengan motorku, tapi ibu meninggal karena kecelakaan, dan dengan bodohnya ayah meratapi kepergian ibu, menangis tiap malam hingga suaranya hilang. Hilang suara hilang pekerjaan, pekerjaanya sebagai karyawan asuransi yang harus berbicara dengan clien dan suaranya hilang, ia menjadi tukang mie ayam, ayah menganggur selama 8 bulan, semua barang dan rumah dijual, dan akhirnya kita tinggal di perumahan kumuh. Sial!
Pagi! seperti pagi yang biasanya, melakukan rutinitas seperti apa yang dilakukan anak-anak seumuranku. Sekolah. Kadang aku berfikir, sekolah hanyalah rutinitas yang dialami anak-anak seumuranku karena mereka tidak bekerja, orang tuanya lah yang bekerja, jika saja mereka yang bekerja, maka mereka tidak akan sekolah, karena rutinitasnya menjadi bekerja.

****

"Ayah tidak perlu mengantar aku tiap hari ke sekolah." seruku setelah sampai di gerbang sekolah "Jarak rumah ke sekolah cuma 2 kilometer."
"Lebih cepat kalau diantar naik motor kan." jawabnya simpel, aku mengetahuinya berbicara dari isyarat tangannya. Ya, ini jelas sudah biasa. Aku sudah biasa membaca isyarat tangan daripada mendengarnya berbicara. "Belajar yang rajin, nak!"
Aku hanya mengangguk, dan aku harap ayah cepat pergi sebelum terjadi bencana rutin yang aku alami tiap pagi.
Tak lama ia pergi, lantas aku berteriak "Hati-hati yah!". Ayah sepertinya tidak menyadari, biarlah mungkin sebaiknya aku langsung masuk kelas.
"Woi, ngomong sama sapa lu? sama tangan! hahahaha..."
Itu dia bencananya, jika aku diantar ayah. Aku satu-satunya anak SMA kelas 3 yang masih diantar ayah. Itu sudah biasa, sebaiknya aku mengabaikannya.
"Lia!" ya, itu namaku. Aku masih sebal dengan godaan anak-anak kurang kerjaan itu. Aku tidak lagi ingin berurusan dengan orang.
"Lia sombong!"
Huft, aku benci kata itu, arti sombong bukan berarti mengabaikan seseorang. Aku menoleh ke belakang melihat siapa yang memanggilku, itu Risa. Terlihat wajahnya yang agak ditekuk, mungkin sedikit kesal karena aku abaikan "Ada apa?"
"Kamu diganggu lagi sama mereka?" raut wajahnya langsung berubah setelah aku berbalik sapa, aku bingung dengannya yang bisa dengan mudahnya berubah raut wajah.
"Sudah biasa."
"Setiap hari itu tidak biasa Lia!"
"Sudahlah, ayo masuk kelas."
"Ya!". Tak lama kita berjalan berdua, dia sudah ngoceh lagi. "Lia, jangan terlalu jutek, entar nggak ada yang naksir lho."
Aku tertegun mendengarnya, hampir saja aku berhenti berjalan. Sebaiknya aku abaikan dia dan cepat-cepat masuk kelas.
"Hei Lia, kamu denger aku nggak."
"Nggak."
"Lia...!!"

****

 KRIING.. KRIIING..
Itu bel keluar sekolah, akhirnya selesai. Dan aku benci pulang dari sekolah, aku lebih suka dijemput saat pulang oleh ayah daripada diantar ke sekolah, mungkin karena capek di sekolah jadi aku lebih suka dijemput saat pulang sekolah.
"Lia, aku pulang duluan ya."
Aku hanya menjawabnya dengan senyum.
Sial, dia selalu membuat aku iri, ke sekolah diantar pacar, pulang sekolah dijemput pacar, dan dia nggak pernah mengenalkan pacarnya kepadaku. Lagi pula siapa yang ingin mengenalnya? datang dan pergi selalu memakai helm full face tidak pernah lepas, mungkin ingin bergaya. Bawa motor besar ala motor pembalap, yang aku tahu RIsa pernah bercerita kalau dia kuliah di salah satu universitas di Jakarta dan sedang menyusun skripsi, jadi punya banyak waktu luang dan bisa mengantar jemput Risa. Manja!
Akhirnya sampai rumah, aku melihat ada 5 pelanggan yang sedang makan mie ayam, dua diantaranya sudah selesai saat aku datang dan menyisakan mangkok dan gelas yang kotor. Dengan sigap aku mengambil mangkok dan gelas yang kotor ke tempat pencucian, dan mencucinya.
Setelah aku mencuci, bahuku ditepuk ayah, itu cara ayah menyapa aku. "Ganti baju dulu, baru bantu ayah." isyarat tangannya mengatakan seperti itu.
Aku mengangguk dan langsung mengganti pakaianku.

 ****

Sudah jam 3, aku tidak melihat satu pelanggan pun. Mungkin mereka tidak lapar, atau ada kedai mie ayam lain. Tapi setahuku, kedai mie ayam ayahku lah yang paling enak di perumahan ini.
Setelah beberapa menit, akhirnya ada pengunjung. Dia laki-laki tinggi, tegap kira-kira berusia 22 tahun berbeda 5 tahun dariku.
Dari sini ceritaku dimulai, laki-laki tinggi tegap itu selalu datang ke kedai mie ayamku, entah dia suka dengan mie ayam atau hanya ingin makan dengan mie ayam. Kira-kira ada 3 - 4 kali dalam seminggu ia kesini.
Aku hanya menganggapnya pelanggan mie ayam biasa, seperti yang lainnya. Tapi entah kenapa aku selalu mengingat wajah lelaki itu, mungkin karena ia sering makan di kedai ayah. Seringnya kita ketemu, tapi tidak pernah mengobrol sama sekali, bahkan namanyapun aku tak tahu.
Suatu ketika saat aku mengantar mie ayam ke meja makannya, aku disuruh duduk menemaninya, dia bilang ingin ditemani saat makan mie ayam, aku mengiyakannya. Hari itu aku pertama kalinya mengobrol dengannya, dan aku tahu namanya. Ryan.
Ryan sering ke kedai, dan kita sering mengobrol. Dia orang yang sangat mudah mencairkan suasana, dia sering bercerita kalau ia adalah mahasiswa, dan menceritakan pengalamannya menjadi mahasiswa pecinta alam.
Seringnya kita berbincang bersama, mengetahui satu sama lain dan akhirnya timbul rasa suka ku kepada Ryan. Pada suatu hari ia mengajakku jalan-jalan dengan motornya yang selalu ia bawa. Aku hanya mengiyakan dan menunggu hari itu.

****

Ini adalah hari dimana kita berjanjian untuk jalan-jalan, kita berkeliling kota Jakarta seharian. Makan di kafe, main ke kebun binatang Ragunan, dan melihat sunset di pantai ancol.
Semua adalah perjalanan yang sangat menyenangkan, dan yang tidak bisa aku lupakan yaitu saat melihat sunset di pantai ancol, Ryan merangkul bahuku dengan erat seakan-akan ia takut jika aku pergi jauh. Pengalaman yang tidak bisa aku lupakan.
Setelah berjalan-jalan, akhirnya aku pulang saat malam. Aku melihat ayah duduk di bangku kedai, raut mukanya khawatir.
Aku masuk kedai dan raut mukanya berubah saat aku datang, ada perasaan lega tersirat di wajahnya. Aku datang dan langsung memeluk ayah, aku masih terbawa rasa bahagia saat jalan-jalan dengan Ryan. Aku bergegas masuk rumah, mandi lalu aku masuk ke kamar. Ini adalah pengalaman yang jarang aku alami, aku merabahkan badan dan menatap langit-langit. Aku membayangkan kejadian saat memandangi sunset, aku masih bisa merasakan tangannya yang merangkul bahuku dengan erat.
Dari sini aku sering diajak jalan-jalan oleh Ryan, dan itu terjadi. Dan aku hanya meminta maaf pada ayahku dalam hati karena aku sering meninggalkannya sendirian di kedai.

****

Ini adalah hari ulang tahunku, Ryan pernah bertanya kapan ulang tahunku, ia bilang akan memberi hadiah. Dan aku selalu menunggu hari ulang tahunku.
Tapi entah kenapa, ada yang mengganjal dalam pikiranku. Kita sering jalan bareng, sering ngobrol bareng bercanda bareng, tapi kita bukanlah siapa-siapa. Dia tidak pernah menyatakan cintanya kepadaku, mungkin saat ulang tahunku dia akan menyatakannya, aku percaya itu.
Tapi hari ulang tahunku seperti biasanya, aku pergi ke sekolah diantar ayah, diejek orang iseng karena bicara dengan tangan, hingga akhirnya sekolah usai. Dan seperti biasa aku pulang sendiri, tanpa ada siapa-siapa.
Tapi, hari ini aku pulang melalui rute yang lain, aku ingin lewat kafe yang sering aku dan Ryan makan. Berharap aku bisa menemukannya dan menagih hadiahku yang ia janjikan.
Setelah lewat kafe itu, aku tidak melihat ada siapa-siapa, ya, maksudnya tidak ada Ryan di sana. Aku melanjutkan perjalanan dengan sedikit rasa kecewa.
"Lia!" suara yang tak asing bagiku memanggil, itu suara Risa dari kafe sebrang. Dia melambaikan tangannya. "Kesini sebentar."
Ya, tak ada salahnya aku kesana, aku berada di depan kafe, Risa langsung ke luar kafe dan menghampiriku.
"Sini! aku ingin ngenalin pacar aku yang sering aku ceritakan."
Huft, sial aku ke sini cuma ingin dikenalin sama pacarnya. "Baiklah hanya sebentar saja, aku mau bantu ayah jaga kedai". Kita masuk ke kedai bersama, dan menuju bangku dengan seorang laki-laki yang duduk sendiri dan membelakangi kami.
Tunggu, sepertinya aku kenal orang ini, dalam benakku aku mengingat-ingat siapa dia. Aku semakin mendekatinya, dan masih mengingat-ingat siapa orang itu.
Aku sudah berjarak kira-kira 4 langkah dari laki-laki itu, sontak aku terdiam, kaku, tak ingin aku melanjutkan langkahku.
"Sayang! sini, aku mau kenalin kamu ke temen aku." Risa memanggil pacarnya untuk menghadapku, "Lia, kenalin ini pacar aku, namanya Andrian......."
Aku masih tak percaya, hatiku berontak, ingin berteriak sekeras-kerasnya, aku ingin memaki-maki Ryan, tapi apa daya kami bukanlah siapa-siapa, teman pun bukan, kita hanya sering jalan-jalan bersama.
Risa masih bicara, tapi aku tidak memperhatikannya, hatiku hancur, entah kenapa. Aku ingin berteriak bahwa Ryan adalah penipu, tapi aku tidak ingin membuat hatinya hancur juga, lagi pula Risa tidak akan percaya begitu saja, bahkan aku dan Ryan pun bukan siapa-siapa.
"Aku langsung pulang ya, mau temani ayah di kedai." aku langsung berpaling meninggalkan mereka berdua, hatiku hancur entah apa rasanya, Ryan yang selama ini membuatku nyaman tanpa aku sadari ia adalah pacar teman baikku, dan bodohnya aku tidak sadar kalau itu Ryan.
Aku mempercepat jalanku, air mataku tak bisa terbendung, ia mulai menetes, lalu mengalir, dan mengalir semakin deras. Aku mengubah jalanku menjadi lari kecil menuju rumah, orang yang ingin aku temui adalah ayah.
Aku sampai di rumah, kedai tutup. Aku tak melihat ayah dimana pun, dan akhirnya aku berlari ke kamar. Aku masuk kamar langsung merebahkan badanku ke kasur, menutup wajahku dengan bantal, menagis tak karuan, sambil teriak-teriak "Cowok bajingan! Cowok Bajingan!" hingga akhirnya aku lelah dan tertidur.

****

Tepukan tangan di bahuku membangunkanku, sepertinya itu ayah, mataku masih sembab karena air mata, aku ingin membicarakannya pada ayah, tapi tidak sekarang aku tidak ingin membicarakannya pada siapa pun termasuk ayah.
"Kamu kenapa nak??" isyarat tangan ayah mengatakannya seperti itu, mukanya khawatir.
Aku hanya menggeleng, menandakan aku tidak terjadi apa-apa.
"Ceritakan pada ayah! kenapa?"
Aku menggeleng lagi.
"Baiklah kalau kamu tidak menceritakannya makan dulu."
Kali ini aku mengangguk, tapi tidak ingin beranjak dari kasur.
"Ayo, makan!"
Aku mengangguk lagi.
"Ayah, tunggu di ruang makan ya."
Aku mengangguk lagi, aku tidak ingin makan aku hanya ingin tidur dan melupakan yang terjadi.
Ayah pergi dari kamarku, ia tahu jika aku punya masalah, aku hanya butuh waktu untuk sendiri.
Beberapa jam terdiam di kasur, tanpa memikirkan apa-apa, hanya memandangi langit-langit, akhirnya aku merasa lapar. Ini jam 1 malam, aku memutuskan untuk ke dapur mencari makan, aku keluar kamar lampu-lampu sudah padam juga lampu ruang makan. Aku menyalakan lampu dan...
Aku tak percaya, sangat tak percaya, aku melihat kue ulang tahun yang sangat besar di meja makan dan ayah yang tertidur di meja makan, dan ia benar-benar menungguku di meja makan, di atas kue ada tulisan Selamat Ulang Tahun dan namaku.
"Ayah tidak lupa, ayah tidak lupa" air mataku mengalir lagi, terharu. Aku mendekati ayah dan memeluknya erat-erat.
Ayah terbangun karena pelukanku, ia melihat jam dan berkata padaku dengan isyarat tangannya "Maaf, kejutannya telat"
Aku membalas isyarat tangan ayah dengan isyarat lagi, "nggak telat, makasih ayah, aku sayang ayah."
Ternyata ayah yang selama ini aku tinggalkan di kedai sendiri, membiarkannya bekerja keras tanpa aku bantu, melupakannya. Tapi ayahlah yang paling tidak bisa melupakanku, setiap malam ia khawatir karena aku belum pulang, aku tidak pernah memikirkan ayah, tapi ayahlah yang selalu memikirkanku.
"AKU SAYANG AYAH"

Posted on Sabtu, Mei 30, 2015 by Agung Permana

No comments