Pagi! ya, sekarang pagi, tidak ada yang spesial di pagi ini lagi, semua sama seperti hari-hari biasanya, hari dimana semua orang memulai aktivitasnya. Di kota ini, pagi hanyalah pagi, yang berbeda hanya cuaca yang sedikit sejuk, mungkin 2 jam lagi akan mulai panas, kau pasti tahu kota apa ini, kota dimana orang hanya memikirkan dirinya sendiri, semua orang sibuk dengan urusannya sendiri, tidak memikirkan orang sekitarnya yang penting aku menang. Ya, ini Jakarta.
Aku sendiri salah satu penduduknya, salah satu penduduk yang tak beruntung, tinggal di perumahan kumuh dengan ayahku yang bekerja dengan membuka kedai mie ayam, kedai ini buka jam 11 dan aku selalu benci jam 11, untung aku harus sekolah jadi jam 11 bisa terlewatkan beberapa jam sebelum aku pulang ke rumah, dan aku benci saat di rumah, rasanya seperti bukan di rumah, teras rumah pun tidak seperti teras rumah yang bisa digunakan untuk ngaso tapi ini teras kedai mie ayam.
Lalu ibu, jangan tanyakan ibu kepadaku, atau pada ayahku. Ibu adalah anugrah terindah dari keluarga kami, saat ia masih ada kami tinggal di perumahan estate, ayah masih bekerja di perusahaan asuransi, aku bisa ke sekolah sendiri dengan motorku, tapi ibu meninggal karena kecelakaan, dan dengan bodohnya ayah meratapi kepergian ibu, menangis tiap malam hingga suaranya hilang. Hilang suara hilang pekerjaan, pekerjaanya sebagai karyawan asuransi yang harus berbicara dengan clien dan suaranya hilang, ia menjadi tukang mie ayam, ayah menganggur selama 8 bulan, semua barang dan rumah dijual, dan akhirnya kita tinggal di perumahan kumuh. Sial!
Pagi! seperti pagi yang biasanya, melakukan rutinitas seperti apa yang dilakukan anak-anak seumuranku. Sekolah. Kadang aku berfikir, sekolah hanyalah rutinitas yang dialami anak-anak seumuranku karena mereka tidak bekerja, orang tuanya lah yang bekerja, jika saja mereka yang bekerja, maka mereka tidak akan sekolah, karena rutinitasnya menjadi bekerja.
****
"Ayah tidak perlu mengantar aku tiap hari ke sekolah." seruku setelah sampai di gerbang sekolah "Jarak rumah ke sekolah cuma 2 kilometer."
"Lebih cepat kalau diantar naik motor kan." jawabnya simpel, aku mengetahuinya berbicara dari isyarat tangannya. Ya, ini jelas sudah biasa. Aku sudah biasa membaca isyarat tangan daripada mendengarnya berbicara. "Belajar yang rajin, nak!"
Aku hanya mengangguk, dan aku harap ayah cepat pergi sebelum terjadi bencana rutin yang aku alami tiap pagi.
Tak lama ia pergi, lantas aku berteriak "Hati-hati yah!". Ayah sepertinya tidak menyadari, biarlah mungkin sebaiknya aku langsung masuk kelas.
"Woi, ngomong sama sapa lu? sama tangan! hahahaha..."
Itu dia bencananya, jika aku diantar ayah. Aku satu-satunya anak SMA kelas 3 yang masih diantar ayah. Itu sudah biasa, sebaiknya aku mengabaikannya.
"Lia!" ya, itu namaku. Aku masih sebal dengan godaan anak-anak kurang kerjaan itu. Aku tidak lagi ingin berurusan dengan orang.
"Lia sombong!"
Huft, aku benci kata itu, arti sombong bukan berarti mengabaikan seseorang. Aku menoleh ke belakang melihat siapa yang memanggilku, itu Risa. Terlihat wajahnya yang agak ditekuk, mungkin sedikit kesal karena aku abaikan "Ada apa?"
"Kamu diganggu lagi sama mereka?" raut wajahnya langsung berubah setelah aku berbalik sapa, aku bingung dengannya yang bisa dengan mudahnya berubah raut wajah.
"Sudah biasa."
"Setiap hari itu tidak biasa Lia!"
"Sudahlah, ayo masuk kelas."
"Ya!". Tak lama kita berjalan berdua, dia sudah ngoceh lagi. "Lia, jangan terlalu jutek, entar nggak ada yang naksir lho."
Aku tertegun mendengarnya, hampir saja aku berhenti berjalan. Sebaiknya aku abaikan dia dan cepat-cepat masuk kelas.
"Hei Lia, kamu denger aku nggak."
"Nggak."
"Lia...!!"
****
KRIING.. KRIIING..
Itu bel keluar sekolah, akhirnya selesai. Dan aku benci pulang dari sekolah, aku lebih suka dijemput saat pulang oleh ayah daripada diantar ke sekolah, mungkin karena capek di sekolah jadi aku lebih suka dijemput saat pulang sekolah.
"Lia, aku pulang duluan ya."
Aku hanya menjawabnya dengan senyum.
Sial, dia selalu membuat aku iri, ke sekolah diantar pacar, pulang sekolah dijemput pacar, dan dia nggak pernah mengenalkan pacarnya kepadaku. Lagi pula siapa yang ingin mengenalnya? datang dan pergi selalu memakai helm full face tidak pernah lepas, mungkin ingin bergaya. Bawa motor besar ala motor pembalap, yang aku tahu RIsa pernah bercerita kalau dia kuliah di salah satu universitas di Jakarta dan sedang menyusun skripsi, jadi punya banyak waktu luang dan bisa mengantar jemput Risa. Manja!
Akhirnya sampai rumah, aku melihat ada 5 pelanggan yang sedang makan mie ayam, dua diantaranya sudah selesai saat aku datang dan menyisakan mangkok dan gelas yang kotor. Dengan sigap aku mengambil mangkok dan gelas yang kotor ke tempat pencucian, dan mencucinya.
Setelah aku mencuci, bahuku ditepuk ayah, itu cara ayah menyapa aku. "Ganti baju dulu, baru bantu ayah." isyarat tangannya mengatakan seperti itu.
Aku mengangguk dan langsung mengganti pakaianku.
****
Sudah jam 3, aku tidak melihat satu pelanggan pun. Mungkin mereka tidak lapar, atau ada kedai mie ayam lain. Tapi setahuku, kedai mie ayam ayahku lah yang paling enak di perumahan ini.
Setelah beberapa menit, akhirnya ada pengunjung. Dia laki-laki tinggi, tegap kira-kira berusia 22 tahun berbeda 5 tahun dariku.
Dari sini ceritaku dimulai, laki-laki tinggi tegap itu selalu datang ke kedai mie ayamku, entah dia suka dengan mie ayam atau hanya ingin makan dengan mie ayam. Kira-kira ada 3 - 4 kali dalam seminggu ia kesini.
Aku hanya menganggapnya pelanggan mie ayam biasa, seperti yang lainnya. Tapi entah kenapa aku selalu mengingat wajah lelaki itu, mungkin karena ia sering makan di kedai ayah. Seringnya kita ketemu, tapi tidak pernah mengobrol sama sekali, bahkan namanyapun aku tak tahu.
Suatu ketika saat aku mengantar mie ayam ke meja makannya, aku disuruh duduk menemaninya, dia bilang ingin ditemani saat makan mie ayam, aku mengiyakannya. Hari itu aku pertama kalinya mengobrol dengannya, dan aku tahu namanya. Ryan.
Ryan sering ke kedai, dan kita sering mengobrol. Dia orang yang sangat mudah mencairkan suasana, dia sering bercerita kalau ia adalah mahasiswa, dan menceritakan pengalamannya menjadi mahasiswa pecinta alam.
Seringnya kita berbincang bersama, mengetahui satu sama lain dan akhirnya timbul rasa suka ku kepada Ryan. Pada suatu hari ia mengajakku jalan-jalan dengan motornya yang selalu ia bawa. Aku hanya mengiyakan dan menunggu hari itu.
****
Ini adalah hari dimana kita berjanjian untuk jalan-jalan, kita berkeliling kota Jakarta seharian. Makan di kafe, main ke kebun binatang Ragunan, dan melihat sunset di pantai ancol.
Semua adalah perjalanan yang sangat menyenangkan, dan yang tidak bisa aku lupakan yaitu saat melihat sunset di pantai ancol, Ryan merangkul bahuku dengan erat seakan-akan ia takut jika aku pergi jauh. Pengalaman yang tidak bisa aku lupakan.
Setelah berjalan-jalan, akhirnya aku pulang saat malam. Aku melihat ayah duduk di bangku kedai, raut mukanya khawatir.
Aku masuk kedai dan raut mukanya berubah saat aku datang, ada perasaan lega tersirat di wajahnya. Aku datang dan langsung memeluk ayah, aku masih terbawa rasa bahagia saat jalan-jalan dengan Ryan. Aku bergegas masuk rumah, mandi lalu aku masuk ke kamar. Ini adalah pengalaman yang jarang aku alami, aku merabahkan badan dan menatap langit-langit. Aku membayangkan kejadian saat memandangi sunset, aku masih bisa merasakan tangannya yang merangkul bahuku dengan erat.
Dari sini aku sering diajak jalan-jalan oleh Ryan, dan itu terjadi. Dan aku hanya meminta maaf pada ayahku dalam hati karena aku sering meninggalkannya sendirian di kedai.
****
Ini adalah hari ulang tahunku, Ryan pernah bertanya kapan ulang tahunku, ia bilang akan memberi hadiah. Dan aku selalu menunggu hari ulang tahunku.
Tapi entah kenapa, ada yang mengganjal dalam pikiranku. Kita sering jalan bareng, sering ngobrol bareng bercanda bareng, tapi kita bukanlah siapa-siapa. Dia tidak pernah menyatakan cintanya kepadaku, mungkin saat ulang tahunku dia akan menyatakannya, aku percaya itu.
Tapi hari ulang tahunku seperti biasanya, aku pergi ke sekolah diantar ayah, diejek orang iseng karena bicara dengan tangan, hingga akhirnya sekolah usai. Dan seperti biasa aku pulang sendiri, tanpa ada siapa-siapa.
Tapi, hari ini aku pulang melalui rute yang lain, aku ingin lewat kafe yang sering aku dan Ryan makan. Berharap aku bisa menemukannya dan menagih hadiahku yang ia janjikan.
Setelah lewat kafe itu, aku tidak melihat ada siapa-siapa, ya, maksudnya tidak ada Ryan di sana. Aku melanjutkan perjalanan dengan sedikit rasa kecewa.
"Lia!" suara yang tak asing bagiku memanggil, itu suara Risa dari kafe sebrang. Dia melambaikan tangannya. "Kesini sebentar."
Ya, tak ada salahnya aku kesana, aku berada di depan kafe, Risa langsung ke luar kafe dan menghampiriku.
"Sini! aku ingin ngenalin pacar aku yang sering aku ceritakan."
Huft, sial aku ke sini cuma ingin dikenalin sama pacarnya. "Baiklah hanya sebentar saja, aku mau bantu ayah jaga kedai". Kita masuk ke kedai bersama, dan menuju bangku dengan seorang laki-laki yang duduk sendiri dan membelakangi kami.
Tunggu, sepertinya aku kenal orang ini, dalam benakku aku mengingat-ingat siapa dia. Aku semakin mendekatinya, dan masih mengingat-ingat siapa orang itu.
Aku sudah berjarak kira-kira 4 langkah dari laki-laki itu, sontak aku terdiam, kaku, tak ingin aku melanjutkan langkahku.
"Sayang! sini, aku mau kenalin kamu ke temen aku." Risa memanggil pacarnya untuk menghadapku, "Lia, kenalin ini pacar aku, namanya Andrian......."
Aku masih tak percaya, hatiku berontak, ingin berteriak sekeras-kerasnya, aku ingin memaki-maki Ryan, tapi apa daya kami bukanlah siapa-siapa, teman pun bukan, kita hanya sering jalan-jalan bersama.
Risa masih bicara, tapi aku tidak memperhatikannya, hatiku hancur, entah kenapa. Aku ingin berteriak bahwa Ryan adalah penipu, tapi aku tidak ingin membuat hatinya hancur juga, lagi pula Risa tidak akan percaya begitu saja, bahkan aku dan Ryan pun bukan siapa-siapa.
"Aku langsung pulang ya, mau temani ayah di kedai." aku langsung berpaling meninggalkan mereka berdua, hatiku hancur entah apa rasanya, Ryan yang selama ini membuatku nyaman tanpa aku sadari ia adalah pacar teman baikku, dan bodohnya aku tidak sadar kalau itu Ryan.
Aku mempercepat jalanku, air mataku tak bisa terbendung, ia mulai menetes, lalu mengalir, dan mengalir semakin deras. Aku mengubah jalanku menjadi lari kecil menuju rumah, orang yang ingin aku temui adalah ayah.
Aku sampai di rumah, kedai tutup. Aku tak melihat ayah dimana pun, dan akhirnya aku berlari ke kamar. Aku masuk kamar langsung merebahkan badanku ke kasur, menutup wajahku dengan bantal, menagis tak karuan, sambil teriak-teriak "Cowok bajingan! Cowok Bajingan!" hingga akhirnya aku lelah dan tertidur.
****
Tepukan tangan di bahuku membangunkanku, sepertinya itu ayah, mataku masih sembab karena air mata, aku ingin membicarakannya pada ayah, tapi tidak sekarang aku tidak ingin membicarakannya pada siapa pun termasuk ayah.
"Kamu kenapa nak??" isyarat tangan ayah mengatakannya seperti itu, mukanya khawatir.
Aku hanya menggeleng, menandakan aku tidak terjadi apa-apa.
"Ceritakan pada ayah! kenapa?"
Aku menggeleng lagi.
"Baiklah kalau kamu tidak menceritakannya makan dulu."
Kali ini aku mengangguk, tapi tidak ingin beranjak dari kasur.
"Ayo, makan!"
Aku mengangguk lagi.
"Ayah, tunggu di ruang makan ya."
Aku mengangguk lagi, aku tidak ingin makan aku hanya ingin tidur dan melupakan yang terjadi.
Ayah pergi dari kamarku, ia tahu jika aku punya masalah, aku hanya butuh waktu untuk sendiri.
Beberapa jam terdiam di kasur, tanpa memikirkan apa-apa, hanya memandangi langit-langit, akhirnya aku merasa lapar. Ini jam 1 malam, aku memutuskan untuk ke dapur mencari makan, aku keluar kamar lampu-lampu sudah padam juga lampu ruang makan. Aku menyalakan lampu dan...
Aku tak percaya, sangat tak percaya, aku melihat kue ulang tahun yang sangat besar di meja makan dan ayah yang tertidur di meja makan, dan ia benar-benar menungguku di meja makan, di atas kue ada tulisan Selamat Ulang Tahun dan namaku.
"Ayah tidak lupa, ayah tidak lupa" air mataku mengalir lagi, terharu. Aku mendekati ayah dan memeluknya erat-erat.
Ayah terbangun karena pelukanku, ia melihat jam dan berkata padaku dengan isyarat tangannya "Maaf, kejutannya telat"
Aku membalas isyarat tangan ayah dengan isyarat lagi, "nggak telat, makasih ayah, aku sayang ayah."
Ternyata ayah yang selama ini aku tinggalkan di kedai sendiri, membiarkannya bekerja keras tanpa aku bantu, melupakannya. Tapi ayahlah yang paling tidak bisa melupakanku, setiap malam ia khawatir karena aku belum pulang, aku tidak pernah memikirkan ayah, tapi ayahlah yang selalu memikirkanku.
"AKU SAYANG AYAH"