Kamis, 25 April 2013

Aku terbangun dari tidur dengan teriak “Aku ingin keluar!”
Ayah masuk kamar, menghampiri dengan tanya “Apa yang kau bilang?”
“Aku ingin keluar, Yah,,”, jawabku.
Wajahnya sedih, pucat pasi. Ia pergi tanpa bertanya apa yang terjadi.

Apa yang terjadi? Mengapa Ayah begitu sedih mendengar itu? Aku tak mengerti. Aku benar-benar tak mengerti. Lagi pula ke luar ke mana? Inilah duniaku. Inilah tempat terindahku. Semuanya ada. Segala hal yang membuat aku tak harus mencari dunia lain.

Aku memang pernah mendengar, di luar sana ada dunia yang lebih menyenangkan tapi sekaligus lebih mengerikan. Di sana akan lebih banyak oksigen sekaligus bencana yang lebih besar. Ah lalu apa maksud mimpiku? Aku tidak mungkin pergi mencari jalan keluar yang belum tentu ada jalan keluarnya! Ah, ini hanya mimpi.

***

Aku tak bisa tinggal diam setelah kejadian itu. Mengapa aku harus digelisahkan oleh mimpi yang sangat tak penting?

Aku mencari ke berbagai informasi. Ku datangi perpustakaan, aku datangi orang-orang pintar. Rupanya mimpi ini tidak hanya sekedar mimpi. Setiap orang akan mendapatkan mimpi yang sama. Setiap orang akan mendapatkan kesempatan yang sama. Jalan ini memang ada. Namun, hanya sebagian saja yang dapat menemukannya dan berhasil menghilang tanpa diketahui, sebagai pertanda keberhasilannya.

Apakah aku harus mencari jalan itu? Jalan keluar menuju kebebasan? Meninggalkan tempat ini beserta isinya? Orang-orang tercinta,kehangatan, kenyamanan dan rasa aman? Apakah benar di sana lebih menyenangkan? Tapi di sana pun bisa lebih menyeramkan, itu yang aku khawatirkan.

Tapi aku tak harus takut. Wajar saja tempat itu lebih menyeramkan karena bisa sangat lebih menyenangkan. Akan ku anggap itu sebagai tantangan. Tantangan untuk bertahan hidup.

Aku harus temukan jalan itu. Aku harus bisa melewatinya. Bagaimana pun caranya.

Keesokan harinya aku semakin dikuatkan. Mimpi itu kembali datang. Aku keluar dari lubang hitam mendapati cahaya terang disambut kicauan burung yang saling bersahutan. Indahnya. Aku harus benar-benar mencari jalan itu. Aku harus persiapkan segala hal sebagai bekal.

Di perjalanan mencari keperluan, aku tak tahan menolak ajakan untuk melangkahkan kaki menuju hutan. Aku masuk dan mengikuti jalan setapak. Semakin jauh ku tinggalkan kampung halaman. Aku berjalan terus dan terus. Tiba-tiba aku melihat cahaya. Aku harus mengetahuinya lebih dekat.

Cahaya yang seolah hanya berjarak sepuluh meter membuatku terus tertipu. Setiap langkah cahaya itu seolah semakin dekat, membesar. Ketika aku kejar cahaya itu mengecil seperti semula. Ku langkahkan kembali, cahaya semakin membesar, setelah ku kejar, kecil kembali. Begitu terus berulang.

Aku sudah terlau jauh masuk ke hutan, meninggalkan tempat yang ramai dan aman. Aku tak bisa kembali. Jalan setapak yang ku ikuti sudah tidak membuntuti. Karena aku hanya mengikuti ke mana cahaya itu pergi.

Tiba di suatu tempat, aku mendapati cahaya terang yang berasal dari atas. Atas? Di mana aku sekarang? Kapan aku memasuki gua itu? Apa mungkin selama ini aku tinggal di tempat yang begitu kecil? Tinggal di tempat yang ku anggap dunia yang nyatanya begitu sempit? Konyolnya aku selama ini. Menganggap bahwa yang kini di belakangku adalah segalanya. Rupanya aku hanya tinggal ditempat yang begitu tak seberapa. Aku muak.

Rupanya rasa muak semakin menguatkanku. Di sana aku terlalu dimanjakan. Semakin hari aku semakin diberi sedikit kesempatan untuk belajar. Belajar bertahan hidup. Semakin hari di sana begitu semakin menyenangkan. Aku benar-benar harus keluar. Ayah pun pernah mendapatkan mimpi yang sama, namun ia lebih mencintai kenyamanan yang membosankan.

Konon, orang-orang yang mendapatkan mimpi itu akan dibimbing ke suatu tempat tanpa disadari oleh si pemimpi. Sehingga tak bisa persiapkan apapun selain kepercayaan dan keteguhan hati. Ya, di sinilah aku sekarang, di tempat itu. Tanpa persiapan. Menuju jalan ke luar.

Aku melihat ke atas, aku melihat warna biru yang tak biasa ku lihat. Itu langit yang sangat berbeda. Cahaya dan biru itu pun lebih terlihat nyata. Aku harus tau apa yang ada di luar sana. Aku benar-benar harus keluar. Menaikinya dan keluar menuju dunia yang lebih luas, meninggalkan kenyamanan yang sebenarnya hanyalah lubang hitam.

Sial! Selama ini aku benar-benar berada di dalam lubang hitam, lubang kegelapan dan inilah jalan keluarnya. Dinding kokoh berbentuk lingkaran penuh dengan lumut tebal, gagah mengelilingiku.

Aku harus segera mencapai puncak tapi aku tak bisa naik begitu saja. Tembok ini begitu tinggi. Licin dan berlendir. Begitu menyeramkan. Aku harus mencari tangga. Pasti ada tangga menuju ke atas. Tapi ah, tak ada tangga yang dapat mempermudah. Ini jalan buntu!

Aku jadi ingat akan cerita seseorang dengan mimpi dan keyakinan yang sama berusaha menaiki dinding ini tapi gagal. Ia harus mati - dengan luka disekujur tubuh - dipangkuan pamannya setelah menceritakan apa yang terjadi. Ia menaiki tembok tanpa tangga dan penyangga kemudian terjatuh setelah mencapai dua per tiganya kemudian menyerah.

Setiap orang yang memutuskan mencari jalan terang namun kemudian menyerah, akan alami hal serupa, mati. Mati tanpa penghormatan karena dianggap hanya manusia bodohlah yang ingin mengawali hidup baru yang tak tentu dengan bersusah payah menaiki tembok tanpa tangga dan penyangga.

Ya, aku melihat jejaknya yang berbekas, membuat sedikit lengkungan pada dinding tembok. Semoga aku bisa di mudahkan olehnya. Aku tak ingin mati tanpa penghormatan. Lebih baik aku hilang kemudian di kenang.

Kini, jalan keluar ada depan mata. Aku harus berhasil walau tanpa apa-apa. Mungkin ini yang dikhawatirkan Ayah tapi aku akan langkahkan kaki. Aku siap terjatuh, terluka dan terus mencoba.


****
aku suka cerpen ini,, ceritanya bikin orang berfikir, karena pesan moralnya bener-bener seperti dalam genangan kabut.
https://www.facebook.com/groups/KomunitasBisaMenulis/doc/516544735074089/

Posted on Kamis, April 25, 2013 by Agung Permana

No comments

Kamis, 11 April 2013

Allah S.W.T. hanya meminta sisa-sisa di dunia..

  1. Sholat = sisa waktu bekerja dan beraktivitas
  2. Sedekah = sisa uang jajan/kekayaan
  3. Puasa = sisa hari
  4. Mengaji = sisa facebook-an, twitter-an, baca novel dan baca komik
  5. Dzikir = sisa mengobrol dan membicaarakan dunia
apakah yang sisa itu masih kita tinggalkan..??

Posted on Kamis, April 11, 2013 by Agung Permana

No comments

Senin, 01 April 2013

Ini adalah tempat dimana aku menjadi panitia Level up 2..
hm,, spot yang bagus..

Posted on Senin, April 01, 2013 by Agung Permana

No comments