Kamis, 18 Oktober 2012

Tuhanku, hamba tidaklah pantas menjadi penghuni surgamu (firdaus)
Namun, hamba juga tidak kuat menahan panas api neraka.
Maka perkenankanlah hamba bertobat dan ampunilah dosa-dosa hamba.
Karena sesungguhnya engkaulah Pengampun dosa- dosa besar.



Dosa-dosaku seperti jumlah debu pasir dipantai

Maka terimalah taubatku
Wahai Pemilik Keagungan
Dan sisa umurku berkurang setiap hari
Dan dosa-dosaku bertambah, bagaimana aku menanggungnya.

Ya Tuhanku, hamba-Mu yang berdosa ini datang kepada-Mu
Mengakui dosa-dosaku dan telah memohon pada-Mu
Seandainya Engkau mengampuni
Memang Engkaulah Pemilik Ampunan
Dan seandainya Engkau menolak taubatku
Kepada siapa lagi aku memohon ampunan selain hanya kepada-Mu.


Posted on Kamis, Oktober 18, 2012 by Agung Permana

No comments

Minggu, 14 Oktober 2012

Ini kisah hidupku kawan, kisah hidup seorang pecundang! kisah seorang yang pernah melukai hati yang seharusnya tak kulukai hatinya...!! sampai aku mengerti kenapa aku lahir, sampai aku mengerti kenapa aku hidup.. Rasanya seperti aku harusnya tidak ada, namun ada yang selalu bilang hidup itu bukan seperti binatang, yang hanya mengerti nafsu duniawi.. hidup bukan seperti angin yang hanya bisa pergi walau ada masalah bahkan ialah masalah.. sampai aku mengerti kenapa aku lahir.. sampai aku mengerti kenapa aku hidup...

****

Pagi ini ribut sekali, lagi-lagi ada masalah yang dipermasalahkan. Apa?!?! kau bilang itu tak baik!! tapi aku bilang itu rutinitas keluarga ini. Kenapa aku lahir di keluarga ini, kenapa aku hidup di keluarga ini. Aku bosan berpura-pura menjadi anak baik. aku ingin pergi meninggalkan keluarga ini.
Yah,, begitulah keluarga ini..!! tidak tahu kenapa aku sering mengeluh, aku punya segalanya, ponselku bagus, aku punya kartu kreditku sendiri, motorku ala Rene Gade, tapi aku tidak punya hidup, aku seperti mayat hidup, aku seperti boneka yang mana orang tuaku adalah dalangnya. Punya segalanya bukanlah anugrah, tapi itu musibah.
Itu semua sebagian dari kisahku, belum lagi aku adalah anak laki-laki dari 2 adik perempuanku, ayahku pembisnis dengan aset mancapai 15% APBN negara ini. tapi aku tetap tidak merasa bangga. Aku harus mengikuti jejaknya. Ibuku layaknya ibu biasa, tapi jika kau telusuri ia aseorang ibu super sibuk, Ia pemimpin sekolah terkenal di Jakarta. mau tidak mau aku harus ikuti karir mereka berdua. padahal aku hanya anak 15 tahun yang harusnya anak seumuran diriku bisa bermain bebas layaknya teman-temanku.
Sampai aku pada batas marginalku, batas kekengkanganku yang selalu kupendam hingga pada suatu hari aku pergi dari rumah tanpa apapun.

****

sepanjang jalan aku selalu mengeluh atas sesuatu yang terjadi, bodohnya aku tak membawa apa-apa. padahal kalau aku bawa kartu atm aku bisa makan, tidak..!! kalau aku membawa kartu atm ayahku pasti tahu dimana aku berada, karena orang suruhan ayah sangat pintar, ia bisa melacak dari atm mana aku mengambil uang. atau seharusnya aku membawa motor, supaya aku tidak kelaparan, kalau aku bawa motor pasti polisi akan menindakku karena aku belum punya sim dan aku pasti dikembalikan kepada orang tuaku.
selalu ada keluhan di perjalananku, hingga akhirnya aku bertemu penjual bubur ayam. aku berdiri di sebrang jalan bertepatan dengan si penjual bubur, aku hendak memesan tapi apa daya aku tak punya uang. aku meremas perut laparku yang dari tadi malam belum terisi sesuatu untuk dimakan. hingga akhirnya si penjual memanggilku.
"Hai nak, apa kau ingin memesan bubur. Kemarilah!"
Aku menghampirinya, ia pun menanyakan hal yang sama seperti ia menyeruku saat aku di sebrang jalan "Apa kau ingin memesan bubur nak?"
"Tidak, maksud ku ya..!!" aku termenung sebentar lalu melanjutkan perkataanku "Tapi aku tidak punya uang"
"Duduklah!!" si penjual menyeruku.
"Tapi aku tidak punya uang."
"Tenang aku traktir." terulas senyum di wajah sang penjual.
aku tak mengerti padahal ia orang yang belum aku kenal tapi sudah sebaik ini, piikiranku bercabang, apa mungkin ia mau menculikku, tapi di sini terlalu ramai. atau meracuniku, hm,, tidak mungkin kalau bubur ini ada racunnya mungkin konsumen yang lain akan keracunan juga.
Tak lama kemudian ada seuara yang memecah pikiranku. "Makanlah!!" si penjual menaruh bubur ayam itu di bangkuku "Jangan khawatirkan bayarannya, ini gratis."
Aku masih tak bisa memakannya, otakku masih memikirkan segala yang terjadi bila aku makan, aku masih termenung dengan sendok yang belum ku angkat. tanpa sadar, aku mengeluarkan air mata, ibuku tidak pernah menyuruh aku makan, karena ia terlalu sibuk. hanya ada makanan yang bermacam-macam di meja dapur, tanpa ada makan malam bersama. ayahku tak pernah menanyaiku apakah aku sudah makan.
si penjual bubur merasa heran tangisku. "Kenapa kau nak? apa punya masalah? kenapa tidak dimakan?"
dengan polosnya aku menjawab. "Ibuku tak pernah menyuruhku untuk makan karena ia sibuk, begitu pula ayah. aku selalu makan sendiri tanpa makan malam bersama."
si penjual bubur menggelengkan kepala, menarik nafas panjang dan berkata "Nak, mungkin kau harus berfikir ke belakang, siapa yang membuatkan bubur saat kau masih kecil."
aku tersentak dengan perkataan si tukang bubur, tanpa sadar air mataku mengalir lebih deras, aku terisak. lalu aku lari dari tukang bubur itu tanpa menghabiskan bubur buatannya. si tukang bubur hanya bisa menggelengkan kepala dan mengelus dada melihat tingkah lakuku.
aku berlari secepat mungkin menuju rumah, aku tak bisa berfikir, apakah aku anak yang durhaka, aku kabur tanpa sebab pasti karena aku hanya memikirkan egoku, aku tak bisa membayangkan betapa marahnya ayahku selama dua hari ini aku menghilang. aku siap untuk murka ayah. tapi aku ingin berterima kasih juga dan meminta maaf untuk apa yang aku perbuat.

****

aku sudah di ujung blok rumahku, aku melihat dua mobil polisi parkir di depan pagar. aku masih berdiri di ujung rumah, aku tak mau pulang sekarang. aku tak mau diintrogasi polisi. tak lama polisi itu pun keluar masuk mobil lalu jalan ke arah yang berlawanan dari arahku.
aku mulai berjalan lagi ke arah rumah, pikiranku masih berkecamuk. tak lama aku sudah berada di depan pagar dengan tinggi 2 meter. tak ada penjaga di pos, mungkin disuruh ibuku untuk mencariku seperti biasa bila aku main dan pulang telat ke rumah. aku menyelonong masuk. aku melihat ayah berdiri dengan sekapan tangan di dadanya. mungkin ia marah. tapi air mukanya menunjukan ia sangat gelisah. ini sat yang sangat sulit. ayah tetap menjaga kewibawaannya walau ia sedang merasa kesusahan.
tak lama ibu keluar, ia langsung lari dan memelukku. "Apakah kau sudah makan nak??" aku sangat tersentak pertanyaan yang pertama kali di keluarkan ibuku. aku langsung memeluk erat dan meminta maaf kepada ibuku. itu adalah kata-kata yang jarang terucap. tak bisa berkata apa-apa. ayahpun menyuruh ku untuk masuk dan duduk bersama di meja makan. dua adikku sudah masih sekolah aku tak bisa melihat raut wajahnya. tak apalah tapi aku sungguh teharu dengan apa yang terjadi hari ini.

Posted on Minggu, Oktober 14, 2012 by Agung Permana

No comments

selalu setiap kau ada, kau selalu indah..
selalu setiap kau ada, kau selalu mempesona..

kau bagaikan kafein bagiku..
membuat jantungku berdetak lebih cepat..
membuatku tak bisa tidur..

kau adiktif penebar candu cinta..
membuat warasku luluh..
membuatku berada di mabuk asmara

selalu setiap kau ada, kau selalu indah..
selalu setiap kua ada, kau selalu mempesona..

Posted on Minggu, Oktober 14, 2012 by Agung Permana

No comments